Selasa, 05 Juli 2011

Laporan Perjalanan DIKSAR KSR PMI Unit Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin


eLPeJe Diksar @ Mandiangin... ^^

Waktu menunjukkan pukul 12.00 a.m. Seperti biasa, aku menderita insomnia.. Akan tetapi, kali ini bukan tugas kuliah yang menjadi penyebabnya...but....persiapan lahir-batin sebelum berangkat Diksar ke Mandiangin.. *lebay^^*



Selesai packing mataku masih belum mau terpejam juga, entah kenapa... Aku terpikir apa yang akan terjadi pada diriku dan teman-teman besog dan lusa??
Zzzzzz...
Waktu menunjukkan pukul 05.00 a.m. Aku pun membongkar kembali packingan tadi malam... Kemudian mempacknya kembali setelah mempertimbangkan matang-matang barang/benda apa saja yang perlu ku bawa ke lapangan..

Jumat, 22 Oktober 2010
Pukul 09.15 a.m. aku tiba di sekre KSR PMI unit UNLAM subunit Banjarmasin. Di sana teman-teman sudah berkumpul dan sibuk mempersiapkan diri dengan packingan masing-masing. Setelah mencek perlengkapan kelompok, kamipun berkumpul di UNLAM PARK untuk mendapatkan pengarahan bagaimana teknis di lapangan, pembukaan acara sekaligus menunggu mobil yang akan mengangkut kami menuju Mandiangin. Kamipun berbaris sesuai kelompok  membentuk lingkaran. Ups,, ada sedikit masalah.. Kelompok 1 kehilangan setengah anggotanya karena mengundurkan diri. Walhasil, panitia pun menambahkan anggota masing-masing kelompok dengan anggota kelompok 1 yang tersisa. Kelompokku pun bertambah menjadi 9 orang. Banyak sekali...yayaya jumlah yang cukup banyak dibandingkan dengan jumlah anggota kelompok lain.
1..2...3... panitia memerintahkan kami berhitung untuk mengetahui jumlah peserta yang akan mengikuti Diksar lapangan ke Mandiangin.
Yuppp...34 peserta, terbagi menjadi 4 kelompok dengan jumlah anggota masing-masing kelompok sebanyak 8-9 orang.
Well, aku coba mengingat-ingat anggota kelompokku, kelompok 1 yang terdiri dari Agung sebagai leader, dayat, trisye, emma, lika, nisa, sri, Betrix dan aku. Setelah berhituung, panitia memerintahkan kami semua untuk membongkar packingan kami, mencek perlengkapan individu maupun kelompok kemudian memerintahkan kami untuk mempacknya kembali. Huft....enak banget merintahnya, kami am gelabakan bongkar pasang packingan.. Untung barang yang ku bawa ngga banyak, jadinya aku tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk bongkar pasang packingku.. ^^
Selesai... Kami merapikan barisan, upacara pembukaan Diksar Lapangan pun dimulai. Bla..bla...bla... Kami diberikan pengarahan dan nasehat-nasehat oleh kaka senior. Ku lihat satu persatu wajah teman-teman mengekspresikan semangat yang menggebu seakan tidak sabar ingin segera sampai di lapangan. *Well..teman...menurut kalian apakah yang akan terjadi pada kita setelah sampai di sana??? Aku juga tidak tahu.. ^^*
     Cukup lama kami menunggu, akhirnya tibalah mobil yang akan mengangkut kami menuju Mandiangin. Mobil BASARNAS dan mobil Polisi.
Kelompok 1 dan 2 diangkut oleh mobil polisi, sedangkan kelompok 3 dan 4 diangkut oleh mobil BASARNAS. Setelah menaikan barang ke mobil, kami satu persatu memasuki mobil dan duduk berhadapan dengan teratur. Sepanjang perjalanan sedapat mungkin ku manfaatkan untuk “tidur”. Tiba-tiba mobil berhenti, kami diturunkan di dekat mesjid. Karena hari jumat jadi peserta cwo nya wajib untuk menunaikan shalat jumat sementara kami peserta cwe dapat beristirahat sejenak. ^^    
Setelah peserta dan panitia cwo selesai shalat jumat, kami masih beristirahat hingga pukul 02.00 p.m. Menjelang pukul 02.00 p.m. salah satu panitia yang akan mendampingi kami tracking memberikan pengarahan tentang tracking yang akan kami jalani. Kata beliau, “karena tracking yang akan kalian lakukan cukup jauh, jadi alangkah baiknya kalau kalian melakukan pemanasan terlebih dahulu”. Akhirnya kami pun melakukan pemanasan dengan senam yang dipimpin oleh Syaiful. Leader kelompok 3. Selesai senam kami mulai tracking dengan menggendong ransel masing-masing.
     Sepanjang perjalanan menuju lokasi diksar, kami disuguhi pemandangan nan elok. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah gunung-gunung yang hijau dan kokoh. Sejuk dan damai rasanya. Ada ketenangan ketika memandang ciptaan Allah yang mengagumkan itu. Secara, pikiran yang penat karena tugas dan aktivitas yang melelahkan ditambah bisingnya kota dimana sejauh mata memandang yang terlihat hanya gedung dan sampah langsung fresh..sungguh, begitu damai dan menenangkan.
     Entah berapa lama dan berapa jauh kami berjalan, yang ku ingat, saat itu aku dan teman-teman cukup kelelahan. Tak berapa lama tibalah kami di sebuah bendungan. Huft..ada kaka panitia.. Perasaanku langsung ngga enak.. *apakah yang terjadi???
10..9...8...
Panitia mulai melaksanakan tugasnya.. Mereka berteriak-teriak, membentak-bentak kami layaknya kami tunarungu *maaf..
Kami berbaris sesuai kelompok tanpa menggendong ransel dan menghadap ke aliran sungai kecil. Yuuppp..kami diperintahkan untuk terjun ke sungai, tiarap dan merayap. Tiba-tiba terdengar suara lemparan benda besar ke air. Well...ransel kami diceburkan ke sungai. Kata panitia, “Kita buktikan apakah packingan kalian benar atau salah, kalau packingan kalian benar maka barang-barang kalian tidak akan basah, sebaliknya jika packingan kalian salah maka barang-barang kalian akan basah”. Hwaaa....aku langsung keingatan packingan ku...mudahan ga basah...aku cemas teman... L
Selesai diceramahi panitia kami melanjutkan tracking dengan kondisi basah kuyup sembari menggendong ransel yang bertambah berat karena basah. L
     Naik-naik ke puncak gunung..tapi ngga turun-turun..
Kami mendaki gunung dengan susah payah, karena selain fisik kami udah mulai lemah, cuaca dingin ditambah keadaan kami yang basah kuyup, sumpah...kami lapar.... J
Bukit demi bukit kami lalui...turunan demi turunan kami lewati...
Hati-hati..kebersamaan...selama perjalanan...*pesan panitia*
Berbagi cerita...canda... Tapi hal itu tak lama, karena kami segera tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Kaki kami mulai letih... Tiba-tiba kami dikejutkan teriakan kagum dari teman-teman di depan. Subhannallah....indahnya ciptaanmu..
Aku melihat betapa indahnya pemandangan yang terhampar di depan mataku... Pemandangan yang keindahannya tak mampu ku lukiskan dengan kata-kata..kondisi fisik yang mulai melemah seakan mendapat tambahan energi berupa motivasi dan semangat untuk bertahan dan melanjutkan perjalanan ini hingga akhir. Setelah puas menikmati pemandangan dan beristirahat sejenak, lagi-lagi kami dicengangkan oleh turunan curam yang harus kami titi menggunakan tali. Kami pun meniti tali dengan hati-hati, akan tetapi tidak sedikit teman-teman yang terjerembab jatuh karena medan yang licin dan cukup memacu adrenalin. Setelah meniti turunan kami pun melanjutkan perjalanan.
     Hari mulai gelap, sementara kami masih jauh dari basecamp. Panitia pun menggiring kami agar dapat mencapai basecamp secepat mungkin. Berbekal senter seadanya, kami mengikuti panitia dengan tergesa-tesa. Sepanjang perjalanan kami saling berpegangan tangan dan saling menguatkan. Tak lama kami pun tiba di basecamp. Kami disambut dengan bentakan dan amarah panitia yang katanya telah lama menunggu kami. Setelah puas menyemprot kami, panitia menunjukkan tempat dimana kami akan membuad bivoack. Sebelumnya,kami diberikan materi bivoack dan kata sandi/password yang wajib diucapkan ketika kami memasuki area basecamp panitia.
     Setiba di lokasi basecamp kelompok, kami segera berbagi tugas. Sebagian mencari kayu untuk penerangan, sebagian mendirikan bivoack dan sebagian menyiapkan makan malam karena kami sangat kelaparan. *jujur.. L
Ketika kami sibuk bekerja, datanglah kaka panitia yang baik hati mengantarkan sepiring makanan untuk kami (baiknya pian ka, sungguh mengerti..thx a lot J). Setelah semuanya selesai, kami segera masak dengan bahan makanan seadanya. “Mie”. Yagh,,apalagi???
Ngga di kos, ngga di hutan.. makannya sama mie,,, huhuhuhu
Apapun yang terjadi, semua makanan terasa nikmat..(karena kelaparan J).
10...9...8...
Ya Allah...Buset dah...panitia uda teriak-teriak lageee...
Langsung dah kami lari terbirit-birit menuju basecamp panitia sambil teriak-teriak ngucapin kata sandi..
Kami berbaris sesuai kelompok dan berhitung untuk mencek kelengkapan jumlah peserta.. 35 orang...5 cwo..30 cwe...
     Cek-cek perlengkapan individu.. 3 yang harus terlihat, yaitu ID card (dilarang basah), peluit dan tali haduk. Ampun dah...ID card ku basah... So...aku dan teman-teman yang lain harus baris terpisah karena kami melakukan kesalahan.. Kami kembali dibentak, diceramahi bla..bla..bla... L
Malam keakraban....kami wajib mengenal semua peserta, panitia + nama lapangan + sejarahnya.
Well...aneh-anehhhhhh jaa.... Kami disuruh ginilah...gitulah buat ndapetin info tentang panitia...dan kami hanya bisa “PASRAH”.
Time is out. Kami kembali berbaris sesuai kelompok membentuk lingkaran dan duduk dengan kaki diluruskan ke depan + mendekati api (dingin buuu). Dannnnn....mulailah sesi tes perkenalan tadi...
Bla..bla...bla...
Ngga peserta, ngga panitia mulai kelelahan...
Break di basecamp masing-masing...
Alhamdulillah...



Sabtu, 23 Oktober 2010
     Malam semakin larut..udara semakin menusuk tulang...Aku dan teman-teman mulai terlelap. Zzzzz....
Entah berapa menit mataku terpejam, aku terbangun...
Aku segera menyalakan api unggun yang mulai padam ditemani Lika yang juga terbangun. Kami berdua pun menghidupi api dengan meniup dan menambah kayu... Leader kami yang tidur di dekat api pun ikut terbangun dan menyuruh kami untuk tidur kembali, tetapi kami menolak karena kasihan pada sang leader. Maksud kami, gantian jaga malamnya...tapi karena leader memaksa kami untuk tidur, kamipun kembali ke tenda dan berusaha memejamkan mata tapi tetap aja ngga bisaaaa..... L
Kami juga mendengar suara-suara aneh, tapi kami mencoba untuk tidak menghiraukannya.
10..9..8...
Jdaaaarrrr...panitia mulai lagiii....
Aku bergegas membangunkan teman-teman untuk segera berkumpul ke basecamp panitia. Sesampai di basecamp panitia, kami lagi-lagi dimarahi karena terlambat, atribut tidak lengkap dan lain-lain.. L
Kami mendapat materi tentang peta kompas. Azimut..back azimut...
Kami langsung terjun ke lapangan, gelap-gelap..dingin-dingin...
Kami diberi petunjuk sudut 90 derajat, kami harus dapat menemukan korban dan memberikan pertolongan. Hasilnya, NIHIL, bahkan kami tersesat.
Akibatnya, lagi-lagi kami disemprot panitia dan dihukum.
Selesai menjalani hukuman, kami dipersilakan untuk istirahat di basecamp masing-masing. Kali ini waktu istirahatnya cukup lama, tapi tetap saja aku tak berani tidur. Mataku truz terjaga..begitupun dengan teman-teman yang lain.
     Hari menjelang pagi. 10...9..8...
Kami kembali berkumpul di basecamp panitia. Kami digiring oleh ka T-Men untuk melakukan senam pagi. Selesai senam pagi, kami diberi waktu untuk makan pagi. Tak berapa lama, kami kembali disuruh berkumpul di basecamp panitia. Kami diperintahkan untuk meyerahkan semua bekal makanan kami kepada panitia. Setelah itu, kami diberi makanan dari bekal yang kami kumpulkan tadi. Santai sejenak..makan-makan...
Well,,kami diberi kesempatan oleh panitia untuk peta kompas lagi..syaratnya ngga boleh gagal dan harus ketemu dengan korbannya.
Kesempatan kedua, sudut 120 derajat. Azimut...back azimut...
Lamaaaaa banget kami ngga nemuin korbannya juga. Sampai akhirnya, teman-teman hampir putus asa, tapi kami harus menemukannya, cepat atau lambat. Nekat. Aku berjalan lurus dengan membidik kompas tanpa memperhatikan back azimut. Hasilnya...ketemu. Tapi tetap saja, “TERLAMBAT”. Akibatnya, kami dihukum. Penanganan korban, “FATAL”, salah semua... Ngga ada yang benar... Aku nge’blank...T.T
Begitupun dengan teman-teman. Hasilnya, kami mendapat hadiah push up 23 set. Ya Allah tolong....
Hiks...hiks...
     Menuju posko 2, kami berjalan dengan acuan kompas pada sudut 270 tanpa memperhatikan back azimut, karena berdasarkan pengalaman, “Melambati”. Tak lama sampailah kami di posko 2. Kami pun di uji penanganan korban, kali ini kasusnya korban tak ada nafas, jadi kami harus memberikan RJP (Resustansi Jantung Paru). Lagi-lagi blank dan salah semuaaaa... 10 set...
Astagfirullah...
Dengan tubuh lemas kami membayar beberapa set hukuman kami baik dengan push up, pompa bumi maupun bernyanyi.
Setelah selesai menjalani hukuman, kami diberi kesempatan untuk makan. Kami segera memasak seadanya. Buru-buru karena waktu kami tidak banyak. Selesai masak, kami kembali baris sesuai kelompok dan diberi pengarahan tentang kegiatan selanjutnya.
     Tandu dan evakuasi. Kami membuat tandu darurat dari tali belati dan bambu dalam waktu 16 menit. Hasilnya, entahlah...
Emma menjadi korban. Sedangkan yang mengangkut tandu ada 4 orang ; aku, Lika, Agung dan Dayat. Perlahan-lahan kami menyusuri sungai membawa korban. Sesampai di basecamp panitia kami berbaris dan dihukum karena melakukan kesalahan. Tandu kami salah dan tidak layak pakai. Kami disuruh terjun ke air, tiarap, jalan jongkok, merayap, berguling, cium bumi dan lain-lain. Selesai menjalani hukuman, kami dipersilakan untuk membersihkan diri. Kami pun beramai-ramai mandi, nyebur ke sungai dan membersihkan baju dari tanah. Setelah itu kami segera menyalakan api dan masak untuk makan malam.
     Selesai makan malam, kami kembali berkumpul di basecamp panitia. Kami digiring ke suatu tempat untuk jurit malam. Sesampainya di posko pelepasan, kami satu persatu dilepas berbekal mitela, senter dan atribut wajib. Entah urutan ke berapa, ketika panitia memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengajukan diri maju jurit malam, aku segera mengangkat tangan karena jujur jaa....aku sangad ngantuuuukkkk untuk menunggu terlalu lama.. Udah harinya rintik ,dingin, banyak nyamuk.....
Maka berangkatlah aku menuju posko 1. Sebelumnya aku diberi kata sandi yang kalau tidak salah ingat, bunyinya gini : kemanusiaan yang berimbang dengan kesamaan akan meningkatkan kadar..
Sepanjang jalan menuju posko 1 aku menghafal kata sandi itu. Sesampai di posko 1, wajib untuk berucap “Kemanusiaan, kesukarelaan adalah jiwaku” (berlaku setiap kita bertemu dengan panitia). Aku pun diperintahkan untuk mencari kayu bakar, kemudian lapor, di interogasi dan ditanya tentang kata sandi berantai dari posko pelepasan (sama, setiap posko). Alhamdulillah aku bisa mengingatnya. Di posko ini diberikan materi tentang sejarah PMI. Aku baru tahu,, bapak Yusuf Kalla, mantan wakil presiden RI ternyata sekarang ini menjabat sebagai bapak Palang Merah di Indonesia, hehehe... J
Truz....aku juga disuruh dengan lantang mengucapkan 7 prinsip dasar Organisasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, yaitu kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan. Selesai sudah....aku pun diberi kata sandi menuju posko 2, bunyinya : kenetralan seorang penolong. Kemandirian yang ditempa sejak dini akan sebanding dengan kesukarelaan yang tumbuh dalam diri dan jiwa masing-masing penolong....*maaf aku lupa...kemampuan mengingatku benar-benar kacau.. L
     Posko 2, materinya tentang Anatomi Faal. Diberi kata sandi yang lagi-lagi aku tak mampu mengingatnya kembali... Posko 3 materinya  tentang skema PP, materi vital yang aku sama sekali ga kuasai. Waktu materi ruang, mudah dipahami, tapi waktu disuruh mempraktekkan, ampun dah...nge’blank....serasa jadi orang paling bodoh sedunia... hiks-hiks-hiks....
Posko 4 materinya tentang evakuasi dan tandu, yang udah kami praktekkan tadi siang dan hasilnya sungguh sangat mengecewakan...
Posko 5 posko terakhir, posko evaluasi. Di posko 5 kami wajib mengurutkan kata sandi berantai yang diberikan di tiap posko. Lagi-lagi nge’blank. Aku berusaha sekuat tenaga mengingatnya, hasilnya ingat. J
Akupun membantu saudara-saudaraku yang ngga hafal sampai akhirnya kantuk menyerangku dan aku BLANK!!!. Semua ingatanku tentang kata sandi berantai yang sebelumnya aku hafal di luar kepala,LENYAP.
Mampus. L
Dihukum............................................................
sampai menjelang pagi.
Tuhan...ampuni kami dan kaka panitia... J
Akhirnya tiba waktu kami untuk beristirahat. Kami berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beristirahat. Aku berusaha untuk memejamkan mata tapi tetap jaaaaa...ngga mau t’pejam...
Huuuuuhhhhh....




Minggu, 24 Oktober 2010
Menjelang pagi kami pun bangun dan segera siap-siap berkumpul di basecamp panitia. Kami sudah terbiasa dengan sifat dan sikap panitia. Jadi kami waspada, siap mental-lahir-batin untuk apapun yang akan dilakukan panitia kepada kami.
10..9..8...
Kami segera menuju basecamp panitia. Kami kembali diceramahi..bla...bla..bla...
Tak berapa lama, kami di giring panitia menuju suatu tempat untuk materi dan praktek Vertical resque. Satu persatu kami mencobanya. Setelah selesai, kami kembali ke basecamp panitia dan membayar sewa pinjam peralatan vertikal resque sebanyak 25 kali push up.
Bla...bla..bla...
Kami dipersilakan untuk membereskan basecamp kelompok dan packing.
Sesampai di basecamp, aku membuka sepatu karena kaki kiriku terasa pedih. Begitu ku buka, astagfirullah.....hancur kakiku...lecet...berdarah di 4 sela jari kaki... Pedihnya masya Allah.... Pantes ja sakit banget di bawa jalan... Refleks air mataku menetes menahani sakit.. *sebenernya malu banget nangis di hadapan orang banyak*
Waktu itu aku marah dengan diriku sendiri karena saat saudara-saudaraku sibuk packing dan membereskan basecamp kami, aku terduduk lemah karena luka di kakiku.. *maafkan aku saudaraku...
10..9..8...
Kami kembali berkumpul di basecamp panitia. Karena luka di kakiku parah hingga membuatku kesulitan berjalan, aku dibantu saudaraku menyeberang sungai yang menghubungkan basecamp kami dengan basecamp panitia dengan cara “digendong”.
Sesampainya di basecamp panitia, kami semua disuruh terjun ke sungai kecuali aku. Panitia berbaik hati mengizinkan aku untuk tetap tinggal di tanah karena luka di kakiku. Miris hatiku melihat saudaraku tiarap, merayap di air kemudian naik ke tanah sedangkan aku tidak bersama mereka karena kakiku ini. Dimana kebersamaan yang terpatri dalam diri dan jiwaku ?? Semuanya gara-gara kakiku L
Satu persatu kami memberi penghormatan kepada bendera KSR PMI Unit UNLAM Subunit Banjarmasin, kemudian kami diberikan selayer sebagai tanda bahwa kami telah resmi menjadi anggota muda organisasi ini. Alhamdulillah.
Selesai pelantikan, kami pun bermaafan dan berfoto-foto sebelum akhirnya menuju mobil yang akan membawa kami semua pulang kembali ke Banjarmasin dengan perasaan yang campur aduk.
Terimakasih saudara-saudaraku..
Terimakasih kaka panitia..
Terimakasih bapak dan ibu..
Terimakasih Allah karena aku masih hidup dan mampu menyelesaikan rentetan acara diksar ruangan yang cukup berat serta diberi kekuatan + ingatan dalam menyusun eLPeJe iniJ








Lambang Unlam03.jpg

Laporan Observasi RSUD H. Abdul Aziz

LAPORAN HASIL OBSERVASI
RSUD H. ABDUL AZIZ (Instalansi Pelayanan Kesehatan Handil Bakti)


Lambang Unlam03.jpg
 






Oleh :
Kelompok I
1.    Agung Sismono
2.    Agustina Ambar Pertiwi
3.    Aisyah
4.    Halimudair

KORPS SUKARELA PALANG MERAH INDONESIA
(KSR PMI)
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2011

 
DAFTAR ISI

Daftar Isi            …………………………………………………………...…...       i
BAB I          PENDAHULUAN……………………………………………….       1
BAB II         Penanganan Medis RSUD H. Abdul Aziz…………………………………………………………..…..        2
BAB II        PENUTUP……………………………………………………......       5


 
BAB I
PENDAHULUAN


RSUD H. Abdul Aziz (Instalansi Pelayanan Kesehatan Handil Bakti) terletak di Jl. Trans Kalimantan km. 8 Handil Bakti Kecamatan Alalak (Telp. 0511 - 7401807). RSUD ini sering disebut sebagai klinik kesehatan oleh masyarakat sekitar karena fasilitas yang dimiliki rumah sakit ini masih kurang lengkap. Jika keadaan pasien gawat dan rumah sakit ini tidak sanggup lagi menanganinya, maka pasien akan dirujuk ke rumah sakit Ansari Saleh atau RSUD Ulin yang fasilitasnya lebih lengkap.
Rumah sakit ini dipimpin oleh bapak Samson Syahbidin yang dibantu oleh perawat (20 orang), dokter (2 orang dokter tetap), apoteker (2 orang), petugas dapur (gizi), petugas cleaning service (4 orang), dan tukang kebun (1 orang). Selama dinas, dokter dan perawat tidak memakai seragam khusus, sehingga sulit untuk membedakan antara petugas dengan pengunjung.
Rumah sakit ini memiliki luas lahan 6835 m2. Rumah sakit ini terdiri dari 1 ruang UGD (Unit Gawat Darurat), 1 ruang ICU dan Radiologi, 1 Laboratorium, 1 ruang perawat jaga, 1 ruang nifas, 1 ruang bersalin, ruang rawat inap, ruang penyakit anak, 1 Dapur, Poli Anak, Poli Gigi, Poli Kebidanan dan Kandungan, 1 ruang apotek, ruang tunggu, kamar mandi dan WC. Fasilitas yang tersedia di rumah sakit ini antara lain tandu kursi, tandu roda, tabung oksigen. 
Keadaan fisik rumah sakit yang dibangun di atas lahan 6835 ini bangunannya masih bagus. Akan tetapi, tata letak ruangnya kurang strategis dan pelayanannya kurang maksimal. Sebagai contoh, dokter yang bertugas di rumah sakit ini terbatas dan tidak selalu berada di tempat. Sehingga ketika ada pasein yang datang menuju UGD, keluarga pasien mencari petugas atau perawat di ruang jaga perawat karena  perawat atau dokter tidak selalu berada di ruang UGD. Dalam 1 ruang perawatan, paling sedikit terdiri dari 4 ranjang pasien. Tidak ada kelas kamar. Rumah sakit ini buka 24 jam sehingga perawat dan dokter yang bertugas bergantian (shif pagi, shif siang, shif malam).


BAB II
Penanganan Medis RSUD H. Abdul Aziz

Penanganan pasien oleh petugas medis dan penanganan korban oleh penolong pertama tentu berbeda. Penolong pertama hanya memberikan pertolongan pertama yang sifatnya mengurangi rasa sakit, mencegah cedera tambahan, dan menyelamatkan korban. Berbeda dengan penanganan medis yang memberikan pertolongan secara kompleks, dari pertolongan pertama hingga upaya penyembuhan dengan pemberian obat sesuai petunjuk dokter.
Kamis, 9 Juni 2011, pukul 10.45 WITA, Ahmad Gazali (47 tahun), seorang pasien yang mengalami luka robek pada betis kanan bawah akibat terkena potongan botol ketika sedang bekerja memotong rumput. Pasien datang dengan menggunakan mobil pick- up terbuka dan diddudukkan di kursi roda menuju ruang UGD. Sesampainya di UGD, pasien didudukkan/direbahkan dan lukanya langsung dibersihkan dengan air bersih oleh perawat. Kemudian di daerah dekat luka, disuntik bius karena lukanya perlu dijahit akibat luka robek yang cukup parah hingga terlihat daging dan tulang kering pasien. Sambil menunggu obat biusnya bereaksi, luka yang telah dibersihkan diberi Betadine. Kemudian luka dijahit. Selesai dijahit, luka dibersihkan kembali tetapi menggunakan fragmygetin, sulphate 80% merk Softa-trile karena pada saat dijahit keluar cairan dari luka tersebut. Selesai dibersihkan, jahitan ditutup dengan kasa obat, kemudian diperban. Obat yang diresepkan dokter antara lain Amoxilin, Mefinol, dan Becon C. Sambil menangani pasien, perawat dan dokter menganamesa, yaitu berdialog dengan pasien menanyakan kronologis kejadian dan sebagainya. Ketika penanganan pasien, ada petugas yang mencatat data diri pasien. Setelah pasein selesai ditangani, pasien diistirahatkan sejenak sampai keadaan psikisnya membaik (tidak shock) kemudian pulang.
Kamis, 9 Juni 2011, pukul 16.00 WITA, Rizkiya (3,5 tahun), seorang pasien yang menderita panas tinggi dan kejang datang dengan kedua orangtuanya dalam keadaan menangis. Ketika sampai di UGD, direbahkan dan diukur suhunya dengan menggunakan thermometer yang diletakkan di ketiak pasien oleh perawat. Sambil menganamnesa orangtua pasien, perawat berusaha menghubungi dokter karena pada saat itu dokter tidak berada di tempat.  Kemudian pasien dikompres dengan air hangat, kemudian diukur lagi suhu tubuhnya. Pasien juga diberi Paracetamol (SANMOL) untuk menurunkan demam/panas tubuhnya. Setelah dokter datang, orangtua pasien dianamnesa dokter, kemudian dokter memeriksa pasien dan memberikan resep obat pada orangtua pasien.
Jumat, 10 Juni 2011 pukul 10.45 WITA, Faujunnur (34 tahun), seorang pasien yang mengalami luka lecet ringan di tangan dan kaki akibat kecelakaan (jatuh dari sepeda motor). Pasien datang dengan dipapah temannya. Sesampai di UGD, pasien didudukkan, kemudian diperiksa bagian tubuh mana saja yang mengalami luka. Kemudian luka pasien dibersihkan dan diberi Bioplacenton karena hanya luka lecet ringan. Sambil menangani pasien, dokter menganamnesa korban. Kemudian dokter memberikan resep obat pada pasien. Resep obatnya antara lain Bioplacenton, Amoxilin.
Jumat, 10 Juni 2011 pukul 12.15 WITA, Yudha (2 tahun), seorang pasien yang menderita muntah-muntah dan suhu badannya tinggi datang dengan ibu dan kakek-neneknya. Sesampai di UGD, pasien direbahkan dan diperiksa, kemudian diukur suhu tubuhnya dengan thermometer. Sambil menangani pasien, dokter menganamnesa orangtua pasien. Kemudian pasien diinfus dan dirawat inap. Obat-obatan yang digunakan dalam penanganan antara lain Metoclopramid injeksi, infus Ringer Laktat.
Sabtu, 11 Juni 2011 pukul 11.45 WITA, H. Faridah (54 tahun), seorang pasien yang menderita nyeri kaki dan odema (bengkak) pada kaki kanan dan kiri (terdapat bintik-bintik merah) datang dengan anaknya dengan dipapah. Pasien direbahkan, diperiksa dan dianamnesa. Kemudian pasien diukur tensi darahnya (140/90). Dari hasil anamnesa diketahui bahwa pasien menderita nyeri kaki selama ± 1 minggu, pasien memiliki riwayat Diabetes dengan kadar gula tinggi. Pasien bahkan telah disuntik insulin setiap hari di rumah. Kemudian pasien di ambil sample darahnya. Sambil menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium, pasien beristirahat. Setelah hasil pemeriksaan Laboratorium keluar dan dianalisa dokter, dokter pun memberikan resep obat kepada pasien.
Sabtu, 11 Juni 2011 pukul 16.05 WITA, Khairul Fajri (1,2 tahun), seorang pasien yang menderita muntah dan berak datang dengan kedua orangtuanya. Sesampai di UGD, pasien direbahkan dan diukur suhu tubuhnya. Sambil menangani pasien, dokter menganamnesa orangtua pasien. Setelah diukur suhu tubuhnya, dokter memberikan resep obat pada orangtua pasien. Resep obatnya antara lain Pasedon, Nitudiar, Lacto B, Ziu Kid.
Dari hasil observasi tindakan penanganan pasien/korban oleh petugas medis, terdapat beberapa perbedaan dengan tindakan  penanganan yang dilakukan penolong pertama (bukan orang medis). Perbedaannya yaitu tindak lanjut dari penanganan pasien itu sendiri dan obat-obatan yang diberikan. Pada pertolongan pertama, penolong melakukan observasi dan pemeriksaan fisik korban, kemudian jika ada luka, penolong hanya membersihkan luka dan memberi Betadine, jika ada luka robek, penolong hanya membersihkan luka dan menutup luka kemudian merujuk korban/pasien ke klinik terdekat. Hal ini karena penolong pertama tidak berhak melakukan tindakan medis seperti menjahit luka, menyuntik dan sebagainya, karena tugas penolong pertama hanyalah melakukan pertolongan pertama. Penolong pertama juga tidak berhak menganjurkan obat pada korban/pasien karena yang berhak menganjurkan obat adalah dokter.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Berdasarkan hasil observasi, kondisi fisik dan tindakan medis di RSUD H. Abdul Aziz sudah cukup baik. Fasilitasnya cukup meskipun tidak terlalu lengkap. Penanganan medisnya cukup bagus dan cekatan. Kebersihan di area rumah sakit cukup.
2.      Tindakan pertolongan pertama oleh penolong pertama dengan petugas medis tidak jauh berbeda, hanya saja, petugas medis berhak melakukan tindak lanjut penanganan pasien misal menjahit luka pasien sedangkan penolong pertama tidak. Penolong pertama juga tidak berhak merekomendasikan suatu obat pada pasien karena yang berhak merekomendasikan obat hanyalah dokter.
B.     Saran
1.      Fasilitas RSUD H. Abdul Aziz hendaknya dilengkapi dan diperhatikan. Misal : fasilitas mushola yang dicampur dengan tempat penyimpanan berkas-berkas rumah sakit.
2.      Kebersihan rumah sakit hendaknya lebih diperhatikan, misal : ranjang bekas menangani pasien di UGD tidak langsung dibersihkan sehingga bercak darah masih lengket di ranjang tersebut, sedangkan ranjang tersebut digunakan oleh pasien lainnya.
3.      Petugas rumah sakit hendaknya selalu standby di area rumah sakit, sehingga jika ada korban dapat segera ditangani.
4.      Petugas rumah sakit hendaknya mengenakan seragam khusus sehingga mudah untuk dibedakan dengan pengunjung atau pegawai lainnya.