LAPORAN LATIHAN PEMANTAPAN
DIVISI HUTAN
Oleh :
Nama : Agustina Ambar Pertiwi
Nama Lapangan : Saluang Mudik
NIA : AM/AL.007/XII/IMPAS-B
Angkatan : XII/ ARWANA LAUT
IKATAN MAHASISWA PECINTA ALAM, SENI, DAN BUDAYA
(IMPAS-B)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
IMPAS-B (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam, Seni, dan Budaya) FKIP UNLAM merupakan organisasi yang bergerak di bidang kepecintaalaman, seni dan budaya. Dalam organisasi ini, ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh Anggota Muda untuk menjadi Anggota Penuh. Tahapannya yaitu Latihan Dasar, Pra Latihan Pemantapan, Latihan Pemantapan, dan Pemantapan. Dalam prosesnya, diperlukan 2 simbol yang mewakili pengakuan diri terhadap seseorang untuk menjadi anggota penuh, yaitu bandana merah muda dan nomor anggota. Dengan adanya persyaratan dari dewan pengurus untuk menjadi Anggota Penuh, maka penulis mengangkat topik Hutan di kawasan Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan dalam laporan pemantapan ini untuk memenuhi persyaratan tersebut.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada laporan pemantapan ini yaitu :
1. Pengertian dan manfaat hutan?
2. Jenis-jenis Hutan di Indonesia?
3. Hutan di kawasan Pegunungan Meratus?
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan pemantapan ini yaitu metode wawancara dan pengumpulan data.
BAB II
HUTAN PEGUNUNGAN MERATUS
A. Pengertian dan Manfaat Hutan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang kehutanan, yang dimaksud dengan hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam dan lingkungannya, yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan juga disebut sebagai paru-paru dunia karena memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan makhluk hidup terutama hewan dan manusia, yaitu mengganti karbondioksida di udara dengan oksigen yang diperlukan hewan dan manusia untuk bernapas. Oleh karena itu, jika terlalu banyak hutan yang rusak, maka ketersediaan oksigen di alam untuk pernapasan berkurang. Adapun manfaat hutan antara lain sebagai penghasil kayu (rotan, dammar, meranti, jati), sebagai devisa negara, mempertahankan kesuburan tanah, mencegah erosi, penghasil oksigen, penyimpan air dan sebagai tempat pencagaran alam (flora dan fauna).
B. Jenis-jenis Hutan di Indonesia
1. Jenis-jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Iklim :
Berdasarkan iklim, hutan di Indonesia ada 2, yaitu :
1) Hutan Hujan Tropis, yaitu hutan yang terdapat di daerah tropis dengan curah hujan sangat tinggi. Hutan jenis ini sangat kaya akan flora dan fauna. Di kawasan ini keanekaragaman tumbuhannya sangat tinggi. Luas hutan hujan tropis di Indonesia ±66 juta Ha. Hutan hujan tropis berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan hujan tropika terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
2) Hutan Monsun, disebut juga hutan musim. Hutan monsun tumbuh didaerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi, tetapi mempunyai musim kemarau yang panjang. Pada musim kemarau, tumbuhan di hutan monsun biasanya menggugurkan daunnya. Hutan monsun biasanya mempunyai tumbuhan sejenis (homogen), misalnya hutan jati, hutan bambu, dan hutan kapuk. Hutan monsun banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
2. Jenis-jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Variasi Iklim, Jenis Tanah, dan Bentang Alam :
Berdasarkan variasi iklim, jenis tanah, dan bentang alamnya, hutan di Indonesia terdiri dari :
1) Kelompok Hutan Tropika :
a. Hutan Hujan Pegunungan Tinggi
b. Hutan Hujan Pegunungan Rendah
c. Hutan Tropika Dataran Rendah
d. Hutan Subalpin
e. Hutan Pantai
f. Hutan Mangrove
g. Hutan Rawa
h. Hutan Kerangas
i. Hutan Batu Kapur
j. Hutan pada batu Ultra Basik
2) Kelompok Hutan Monsun
a. Hutan Monsun Gugur Daun
b. Hutan Monsun yang Selalu Hijau (Evergren)
c. Sabana
3. Jenis-jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Terbentuknya
Berdasarkan proses terbentuknya, hutan di Indonesia dibedakan menjadi :
1) Hutan alam, yaitu suatu lapangan yang bertumbuhan pohon-pohon alami yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya. Hutan alam juga disebut hutan primer, yaitu hutan yang terbentuk tanpa campur tangan manusia.
2) Hutan buatan disebut hutan tanaman, yaitu hutan yang terbentuk karena campur tangan manusia.
4. Jenis-jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Statusnya
Berdasarkan statusnya, hutan di Indonesia dibedakan menjadi :
1) Hutan negara, yaitu hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah.
2) Hutan hak, yaitu hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Hak atas tanah, misalnya hak milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), dan hak guna bangunan (HGB).
3) Hutan adat, yaitu hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.
5. Jenis-jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Jenis Tanamannya
Berdasarkan jenis tanamannya, hutan di Indonesia dibedakan menjadi :
1) Hutan Homogen (Sejenis), yaitu hutan yang arealnya lebih dari 75 % ditutupi oleh satu jenis tumbuh-tumbuhan. Misalnya: hutan jati, hutan bambu, dan hutan pinus.
2) Hutan Heterogen(Campuran), yaitu hutan yang terdiri atas bermacam-macam jenis tumbuhan.
6. Jenis-jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Fungsinya
Berdasarkan fungsinya, hutan di Indonesia dibedakan menjadi :
1) Hutan Lindung, yaitu kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan.
2) Hutan Konservasi, yaitu kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri atas :
a) Hutan Suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan, satwa dan ekosistemnya serta berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan. Kawasan hutan suaka alam terdiri atas cagar alam, suaka margasatwa dan Taman Buru.
b) Kawasan Hutan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam terdiri atas taman nasional, taman hutan raya (TAHURA) dan taman wisata alam.
3) Hutan Produksi, yaitu kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya serta pembangunan, industri, dan ekspor pada khususnya. Hutan produksi dibagi menjadi tiga, yaitu hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi tetap (HP), dan hutan produksi yang dapat dikonversikan (HPK).
3. Hutan di kawasan Pegunungan Meratus
Secara astronomis, kawasan Pegunungan Meratus terletak di antara 115o38’00’’ hingga 115o52’00’’ Bujur Timur dan 2o28’00’’ hingga 20o54’00’’ Lintang Selatan. Pegunungan ini menjadi bagian dari 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Banjar, dan Tapin.
Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang dapat dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah, hutan tropis, dan hutan heterogen. Disebut hutan pegunungan rendah karena ketinggian puncak pegunungan tidak sebanding dengan puncak gunung yang berada di luar Kalimantan. Sedangkan disebut sebagai hutan tropis karena memiliki curah hujan yang cukup dan kaya akan keanekaragaman hayati, dan disebut hutan heterogen karena tumbuhan yang terdapat di dalamnya tidak terdiri dari satu jenis tumbuhan saja.
Karena kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, kaya akan flora dan fauna, tidak heran jika selama perjalanan dari desa Kedayang menuju desa Batu Perahu, terdapat beranekaragam flora dan fauna yang kami temui di sepanjang perjalanan. Pada perjalanan dari desa Kedayang menuju bukit Buluh Bedasar terdapat flora antara lain Kelapa (Cocos nucifera), Bambu (Bambusa sp), Rambutan, Mangga, Langsat, Limpasu, Kayu Manis, Meranti, Damar, tumbuhan Crocodile, Ilalang, Rumput, Semak Belukar, Paku-pakuan, Karet, Minyak Kayu Putih, Lumut, Begonia sp, Pisang (Musa sp), Anggrek Hutan, Jelatang, dan lain-lain. Sedangkan faunanya antara lain Semut Badak, Pacet (Halimatak), Anjing, Kucing, Ayam, Cicak, Nyamuk, Rangit, Lebah, Semut hitam besar, Semut hitam kecil, Semut merah, Lalat, Burung, Kaki seribu raksasa, Ulat, Katak, Ikan, Ramah-ramah hujan, dan lain-lain. dengan beberapa vegetasi dominan, antara lain Meranti (Shorea sp), Kenari (Canarium sp), Durian (Durio sp), dan lain-lain. Pada perjalanan dari bukit Buluh Bedasar menuju desa Timangu terdapat flora antara lain tumbuhan Minyak Kayu Putih, Tebu-tebuan, Ilalang, Putri Malu (Mimosa pudica L.), Semak Belukar, Rumput, Kacang Tanah, Cabe, Lamtoro, Kelapa (Cocos nucifera), Bambu (Bambusa sp), dan lain-lain. Sedangkan faunanya antara lain Semut hitam besar, Semut hitam kecil, Semut merah, Anjing, Ayam, Babi, Burung, Nyamuk, Rangit, dan lain-lain. Pada perjalanan dari bukit Buluh Bedasar menuju Sungai Keruh, terdapat flora antara lain Meranti, Damar, tumbuhan Crocodile, Ilalang, Rumput, Semak Belukar, Paku-pakuan, Minyak Kayu Putih, Lumut, Begonia sp, Anggrek Hutan, Jelatang, Karet, Bambu (Bambusa sp), dan lain-lain. Sedangkan faunanya antara lain Anjing, Ayam Hutan, Uwa-uwa, Nyamuk, Rangit, Ramah-ramah hujan, Pacet (Halimatak), Jangkrik, dan lain-lain. Pada perjalanan dari Sungai Keruh menuju Sungai Alay, floranya antara lain Pepohonan, Pasak Bumi, Bambu, Damar, Lumut, Buah Merah, Semak Belukar, Rumput, Ilalang, dan lain-lain. Sedangkan faunanya antara lain Semut Badak, Semut Hitam, Nyamuk, Rangit, Anjing, Ikan, Ramah-ramah hujan, Pacet (Halimatak), Kupu-kupu, Jangkrik, Katak, dan lain-lain. Perjalanan dari Sungai Alay menuju desa Batu Perahu floranya antara lain pohon-pohon besar di pinggir sungai, Bambu (Bambusa sp), Kelapa (Cocos nucifera), Semak Belukar, Ilalang, Rumput, Singkong (Manihot utilisima Burns F.), Pisang (Musa paradisiacal L.), dan lain-lain. Sedangkan faunanya antara lain Anjing, Katak, Ramah-ramah hujan, Kupu-kupu, Burung, Kucing, Ayam, Ikan, Semut Badak, Semut hitam, Nyamuk, Lalat, Rangit, dan lain-lain.
Dari flora dan fauna yang kami temui selama perjalanan, tidak semua flora dan fauna tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Flora yang umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar yaitu tanaman Kayu Manis yang dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat desa Kedayang, pohon-pohon besar seperti pohon Damar dan Meranti yang ditebang untuk dijadikan lembaran papan, gelendongan atau dijadikan kayu bakar, Karet yang diambil getahnya karena bernilai ekonomis, pohon buah-buahan, tanaman kebun, pohon Bambu yang dijadikan lantai rumah dan keperluan lainnya, tanaman Pasak Bumi untuk obat herba, tanaman Crocodile yang dapat mengeluarkan air pada batangnya dan dapat diminum, semak belukar dan rerumputan yang dapat dijadikan sebagai obat herba oleh masyarakat setempat, dan lain-lain. Fauna yang umumnya dimanfaatkan masyarakat di sekitar pegunungan Meratus yaitu anjing, sebagai hewan piaraan dan teman berburu, ikan, Burung dan Ayam untuk dikonsumsi, Kucing sebagai hewan piaraan, Babi sebagai hewan piaraan dan dikonsumsi, dan lain-lain.
Selama perjalanan dari desa Kedayang-desa Batu Perahu, ada tiga desa yang kami singgahi, yaitu desa Kedayang, desa Timangu, dan desa Batu Perahu. Pada umumnya pekerjaan masyarakat desa yang kami singgahi adalah bertani, berkebun palawija, berburu, menebang pohon, dan sebagian ada yang berdagang kecil-kecilan (warung). Ketiga desa ini terletak di lereng pegunungan Meratus, jauh dari kota, dapat dikatakan ‘terpencil’ karena belum terjangkau tenaga listrik. Meskipun begitu, beberapa dari warga ada yang memiliki mesin genset, artinya pengetahuan masyarakat di desa tersebut tidak terlalu tertinggal. Di desa Kedayang dan Batu Perahu sudah terdapat Sekolah Dasar meskipun bangunannya masih terbuat dari kayu dan fasilitasnya masih belum lengkap. Masyarakat desa tersebut juga sudah mengenal kemajuan zaman, sebagian dari mereka sudah ada yang memiliki televisi, genset, dan handphone. Suasana desanya masih terasa alami dan belum mendapat pengaruh yang berarti dari luar. Hal ini dapat dilihat dari bentuk rumah penduduk yang unik, yaitu terbuat dari bambu dan kayu hasil hutan yang mereka ambil dan olah sendiri, kemudian bahasa percakapan sehari-sehari yang mereka gunakan berupa bahasa dayak_banjar, kebiasaan penduduk yang MCK di sungai, kebiasaan warga yang memasak dengan menggunakan tungku, pekerjaan masyarakat sekitar dan terdapat balai yaitu berupa bangunan yang dimanfaatkan warga untuk bermusyawarah dan bearuh. Aruh merupakan sebuah ritual keagamaan yang digelar di Balai Adat, sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil panen, keselamatan dan kesehatan yang diberikan Nining Batara, Tuhan Yang Maha Esa. Aruh Ganal merupakan prosesi puncak dari rangkaian ritual penghormatan terhadap padi yang pada pelaksanaannya mengundang sub-sub etnis Dayak Meratus lainnya di seluruh Kalimantan Selatan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam dan lingkungannya, yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan.
2. Manfaat hutan antara lain sebagai penghasil kayu (rotan, dammar, meranti, jati), sebagai devisa negara, mempertahankan kesuburan tanah, mencegah erosi, penghasil oksigen, penyimpan air dan sebagai tempat pencagaran alam (flora dan fauna).
3. Jenis hutan berdasarkan iklim terdiri dari hutan hujan tropis dan hutan monsun. Jenis hutan berdasarkan variasi iklim, jenis tanah, dan bentang alam terdiri dari kelompok hutan hujan tropis (hutan hujan pegunungan tinggi, hutan hujan pegunungan rendah, hutan tropika dataran rendah, hutan Subalpin, hutan Pantai, hutan Mangrove, hutan Rawa, hutan Kerangas, hutan Batu Kapur) dan kelompok hutan monsoon (hutan monsoon gugur daun, hutan monsoon yang selalu hijau, sabana). Jenis hutan berdasarkan proses terbentuknya terdiri dari hutan alam dan hutan buatan. Jenis hutan berdasarkan statusnya terdiri dari hutan negara, hutan hak, dan hutan adat. Jenis hutan berdasarkan jenis tanamannya terdiri dari hutan homogeny dan hutan heterogen. Jenis hutan berdasarkan fungsinya terdiri dari hutan lindung, hutan konservasi dan hutan produksi.
4. Pegunungan Meratus secara astronomis terletak di antara 115o38’00’’ hingga 115o52’00’’ Bujur Timur dan 2o28’00’’ hingga 20o54’00’’ Lintang Selatan.
5. Pegunungan Meratus merupakan kawasan berhutan yang dapat dikelompokkan sebagai hutan pegunungan rendah, hutan tropis, dan hutan heterogen.
6. Flora yang kami temukan di hutan pegunungan Meratus antara lain Kelapa (Cocos nucifera), Bambu (Bambusa sp), Rambutan, Mangga, Langsat, Limpasu, Kayu Manis, Meranti, Damar, tumbuhan Crocodile, Paku-pakuan, Karet, Minyak Kayu Putih, Lumut, Begonia sp, Pisang (Musa sp), Anggrek Hutan, Jelatang, Tebu-tebuan, Ilalang, Putri Malu (Mimosa pudica L.), Semak Belukar, Rumput, Kacang Tanah, Cabe, Lamtoro, dan lain-lain.
7. Fauna yang kami temukan di hutan pegunungan Meratus antara lain Semut Badak, Pacet (Halimatak), Anjing, Kucing, Ayam, Cicak, Nyamuk, Rangit, Lebah, Semut hitam besar, Semut hitam kecil, Semut merah, Lalat, Burung, Kaki seribu raksasa, Ulat, Katak, Ikan, Ramah-ramah hujan, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011. Hutan di Indonesia. http://syadiashare.com/jenis-dan-fungsi-hutan.html. Diakses tanggal 2 Agustus 2011.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
LAPORAN PERJALANAN LATIHAN PEMANTAPAN XIII IMPAS-B FKIP UNLAM
Minggu, 17 Juli 2011
Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 pm. Tidak seperti malam biasanya menjelang keberangkatanku menuju suatu tempat, kali ini aku tidak packing karena barang-barang ku sudah siap angkat dan sudah ku letakkan di sekre sejak tadi sore. Meskipun begitu aku tetap tidak bisa tidur karena insomnia. Aku begitu sibuk memikirkan bagaimana nasibku, apa yang akan ku alami dan apa yang akan ku hadapi selama 9 hari ke depan. Yagh, karena yang akan ku hadapi besok adalah “Latihan Pemantapan XIII IMPAS-B FKIP UNLAM” yang sudah sekian lama aku dan dingsanak tunggu. Kegiatan ini merupakan tahap ketiga dari rangkaian kegiatan menuju anggota penuh di organisasi ini. Jadi, tidak berlebihan jika aku cukup gugup selama persiapan menghadapi kegiatan ini.
Senin, 18 Juli 2011
Entah pukul berapa aku terlelap tadi malam. Yang ku ingat, aku sibuk memikirkan nasibku, apa yang akan ku hadapi dan apa yang akan ku alami. Pukul 05.00 am aku terbangun dari tidur pendekku. Akupun bergegas shalat subuh dan bersiap-siap ke sekre untuk persiapan sebelum berangkat. Pukul 08.00 am aku tiba di kos Rini untuk membantunya packing konsumsi.
Pukul 12.00 am kami melaksanakan upacara pelepasan. Upacara pelepasan kami tidak dihadiri oleh Pembantu Dekan III, sehingga hanya senior dan anggota penuh lainnya yang melepas kami. Pukul 13.00 pm kami berangkat menuju Loksado dengan menggunakan pick up. Adapun peserta kegiatan ini yaitu aku (Agustina Ambar Pertiwi), Rini Aulini, Angie Erlianty, Fauzan Halim, Eka Noorhidayati Leana, Benny Mahendra, Yulianto, dan Ruzaka Abdi dengan 2 pengiring yaitu Bang Raul (Fahrizal Amirullah) dan Ka Went (Whiwent Aulia).
Perjalanan yang panjang. Selama ±8 jam perjalanan kami isi dengan canda tawa yang membuat perjalanan ini terasa menyenangkan. Pukul 18.00 pm kami sampai di desa Loksado. Karena jembatan menuju desa Malaris putus, kamipun trekking selama ± 30 menit karena kondisi tubuh kami yang lelah dan hari mulai gelap. Sesampai di desa Malaris, kami disambut oleh sekelompok Anjing yang menggongong dan terlihat ganas. Aku dan beberapa dingsanak ketakutan. Beruntung ada orang kampung yang menjinakkan anjing-anjing tersebut.
Desa Malaris merupakan sebuah perkampungan dayak dimana warganya belum menganut agama, tetapi ‘Kaharingan’. Desa ini memiliki balai yang sangat besar dan luas. Menurut info, balai tersebut memiliki kamar-kamar yang dapat dijadikan sebagai tempat tinggal oleh warga. Balai ini dimanfaatkan untuk tempat pertemuan dan acara besar seperti aruh. Di desa ini juga terdapat pondok informasi, dimana di pondok ini pengunjung/wisatawan dapat menggali informasi tentang desa ini, seperti flora dan fauna, letak air terjun, kebudayaan, adat istiadat di desa ini, dan lain-lain. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, kamipun beristirahat di “Pondok Informasi Desa Malaris” karena pondok ini lebih dekat dengan pemukiman warga sehingga memudahkan kami untuk bersosialisasi. Desa ini sudah terjangkau listrik, sehingga tidak mengherankan jika sebagian warga sudah memiliki televisi dan handphone. Sesampai di pondok, kami duduk-duduk di teras dan berbincang-bincang dengan warga. Kemudian kami membongkar packingan, masak, makan, rapat evaluasi, dan tidur. Tidak seperti dingsanak lain yang langsung terlelap, aku masih belum bisa tidur. Aku pun membaca koleksi buku, laporan penelitian dan album yang terdapat di lemari pondok informasi ini. Karena hari semakin malam dan udara semakin dingin, akupun tertidur.
Selasa, 19 Juli 2011
Waktu masih menunjukkan pukul 03.00 am tetapi aku sudah bangun. Sulit rasanya untuk memejamkan mata kembali. Aku kembali disibukkan dengan pikiran-pikiranku tentang apa yang akan terjadi dan apa yang akan ku hadapi ;(. Sesuai jadwal, pukul 04.30 aku mulai memasak karena kebetulan pagi ini jadwalku memasak. Selesai masak, kamipun makan bersama, kemudian persiapan trekking menuju desa Kedayang. Sebelum berangkat, kami berfoto-foto di desa Malaris dan berpamitan dengan warga. Pukul 07.00 am kami berangkat menuju desa Kedayang.
Trekking selama 6 jam dengan medan aspal naik-turun gunung cukup membuat kami kelelahan. Akan tetapi, kebersamaan dengan dingsanak, canda tawa membuat perjalanan ini terasa menyenangkan. Dengan hati riang kami berjalan, berbagi logistik, bercanda, menyapa warga, dan menikmati panorama alam yang masih sangat asri. Pukul 12.30 pm kami sampai di desa Kedayang. Kamipun beristirahat di rumah warga sambil bersosialisasi. Kemudian kami beristirahat di Balai Desa Kedayang. Seperti di desa Malaris, balai desa Kedayang juga dimanfaatkan untuk pertemuan dan acara-acara seperti ‘Aruh’. Balai desa ini sangat unik, yaitu memiliki banyak pintu dimana setiap pintunya menghubungkan dapur-dapur warga. Itu sebabnya ketika kami hendak memasuki balai ini, kami harus masuk ke rumah warga, melewati ruang-ruang hingga akhirnya sampai di ruangan balai yang sangat luas. Balainya terbuat dari bambu sehingga saat malam udaranya terasa sangat dingin. Desa ini belum terjangkau listrik, sehingga kami menggunakan senter sebagai alat penerangan. Akan tetapi, meskipun belum terjangkau listrik, beberapa warga sudah ada yang memiliki genset dan memiliki barang elektronik seperti televisi dan handphone. Pekerjaan sebagian besar warga desa ini yaitu sebagai petani kayu manis dan berkebun.
Waktu masih menunjukkan pukul 02.00 pm, kami sudah selesai masak dan makan. Selanjutnya kamipun beristirahat dan bersosialisasi dengan warga. Menjelang malam, warga silih berganti datang menemui kami di balai untuk sekedar berbincang-bincang berbagi cerita. Setelah warga pulang, kamipun rapat evaluasi dan tidur.
Rabu, 20 Juli 2011
Waktu menunjukkan pukul 03.00 am. Hari masih gelap, udara masih terasa sangat dingin dan nyamuk-nyamuk masih berpesta menghisap darah-darah kami. Aku terbangun dari tidurku dan mencoba memejamkan mata kembali tetapi tidak bisa. Akhirnya aku membangunkan ka Eka untuk memasak. Kemudian kamipun mulai memasak di dapur warga. Dapur yang kami gunakan untuk memasak pagi ini berlainan dengan dapur yang kami gunakan untuk memasak kemarin sore. Hari mulai terang, dingsanak mulai bangun. Ada yang langsung ke dapur, pergi ke sungai, packing, beres-beres dan bersosialisasi. Kerjasama yang bagus. ;). Pukul 07.00 kami selesai makan, beres-beres dan packing. Kamipun bergegas pamit dan bertanya pada warga tentang jalan menuju tanjakan nini bakat. Sebenarnya kami sudah mendapatkan informasi, tetapi informasi yang kami dapat masih belum begitu jelas. Info yang kami dapatkan tentang jalan menuju tanjakan nini bakat sangat mudah. Dan meskipun kami berulang kali bertanya kepada warga untuk meyakinkan informasi itu, lagi-lagi jawaban mereka sama. Akhirnya setelah berpamitan dengan warga dan berfoto bersama, kami mulai trekking. Langkah demi langkah kami berjalan melewati kebun-kebun, semak belukar, bukit, dan sungai. Begitu banyak simpangan yang membuat kami bingung. Setiap ada simpangan kami survey. Patokan kami saat ini yaitu lumbung padi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 pm tetapi kami belum menemukan lumbung padi yang besar. Tenaga kami sudah banyak terkuras dan kondisi tubuh kami mulai lemah. Persediaan air yang kami miliki sudah mulai menipis. Akan tetapi kami bertekad untuk mencari jalan menuju tanjakan nini bakat. Simpangan demi simpangan kami telusuri, tanjakan demi tanjakan kami daki hingga akhirnya kami sampai di 2 simpangan. Ke arah kanan jalannya seperti bekas orang menarik kayu dan berwarna kuning (lumpur), sedangkan ke arah kiri menuju bukit tinggi. Kamipun berunding untuk menentukan simpangan mana yang akan kami jalani. Setelah survey dan berunding, kami memutuskan untuk memilih simpangan ke arah kiri, yaitu mendaki sebuah bukit yang cukup tinggi. Setelah sampai puncak, lagi-lagi kami dibingungkan dengan adanya jalan setapak dua arah, ke kanan dan kiri. Kamipun survey lagi. Ka Went, bang Raul dan bang Benny survey ke arah kiri sedangkan Ozan dan Jaka survey ke arah kanan. Saat itu target kami yaitu menemukan sungai dan mendirikan basecamp karena persediaan air kami semakin tipis dan kondisi semua anggota tim yang mulai lemah. Setelah survey, observasi dan berunding, kami memutuskan untuk menjalani setapak ke arah kiri. Akhirnya kami mulai berjalan. Ketika salah seorang anggota tim menemukan streamline berupa tali rafia yang diikatkan pada pohon, kami mulai bersemangat dan yakin bahwa jalan yang kami jalani ini adalah benar menuju tanjakan nini bakat. Akan tetapi, ketika melihat kompas, jalan yang kami tempuh saat ini menuju arah barat, sedangkan tujuan kami adalah arah utara. Karena kami sudah sangat lelah, kamipun terus berjalan untuk menemukan sumber air dan mendirikan basecamp. Alhamdulillah, ketika hari sudah mulai gelap, kami menemukan sumber air kecil berupa pancuran. Kami sangat gembira, kami segera mengisi botol-botol kosong kami dan mencari tempat untuk mendirikan basecamp. Sementara anggota tim cwo mendirikan basecamp dan mencari kayu, kami aanggota tim cwe mulai memasak. Basecamp sudah berdiri, makanan sudah siap, kami segera makan. Selesai makan kamipun berkumpul dalam bivoack yang apa adanya sambil berbagi cerita, memasak air, rapat evaluasi dan tidur.
Kamis, 21 Juli 2011
Entah pukul berapa, udara terasa sangat dingin, hari masih gelap dan ujung sarungku basah. Aku terbangun dan menyadari bahwa semua anggota tim terlelap, api mati dan HUJAN!! Tidak berapa lama Bang Ijul bangun disusul anggota tim lainnya. Kami segera menyalakan api dan memasak air untuk minum kopi. Kami semua kedinginan!! Setelah kami merasa sedikit hangat, kamipun melanjutkan tidur yang tertunda. Hari mulai terang, tetapi hujan masih turun dan udara terasa sangat dingin membuat kami malas untuk bergerak. Melenceng dari jadwal dan kesepakatan saat rapat evaluasi tadi malam, kami berangkat trekking pada pukul 11.00 am. Selesai makan, beres-beres dan packing, kami kembali trekking menyusuri jalan setapak ke arah barat. Pertimbangannya, jalan setapak adalah petunjuk menuju suatu perkampungan. Kami berjalan menuruni lereng bukit yang licin, menyebrangi sungai, mendaki bukit, melewati kebun dan akhirnya sampai di sebuah perkampungan dayak yaitu desa Timangu. Di desa itu kami bersosialisasi, mencari informasi tentang jalan menuju tanjakan nini bakat. Dan ternyata,, KAMI SALAH JALAN!!
Blugg!! Huhuhu..... T.T
Kami kembali berunding dan memutuskan untuk kembali menjalani jalan setapak nan licin tadi demi menemukan tanjakan nini bakat. Setelah berpamitan dan berfoto bersama warga desa Timangu, kami trekking menuju bukit Buluh Bedasar basecamp kami tadi malam. Sesampai di basecamp waktu masih menunjukkan pukul 03.00 pm. Akan tetapi kami memutuskan untuk tinggal dan menunda perjalanan kami menuju tanjakan nini bakat. Seperti biasa, anggota tim cwo mendirikan basecamp, mencari kayu dan mencari air sementara kami anggota tim cwe memasak. Selesai makan dan beres-beres, kamipun rapat evaluasi dan segera mencari posisi untuk istirahat total sebagai persiapan hari esok. Tak lama kemudian, kami semua terlelap.
Jumat, 22 Juli 2011
Waktu menunjukkan pukul 04.30 am, kami semua bangun dan siap untuk memulai perjalanan hari ini. Kami segera memasak, makan, beres-beres dan packing. Pukul 08.30 am kami mulai trekking menuju simpangan jalan setapak yang berwarna kuning. Sesampai di simpangan, kami istirahat sejenak. Kemudian kami mulai berjalan. Dan lagi!! Lagi-lagi simpangan ;O. Kami mulai putus asa tetapi tetap mencari jalan menuju tanjakan nini bakat. Kemudian kami mendaki bukit melewati bekas penebangan kayu hingga puncak dan mendapati jalan setapak yang membawa kami menuju bukit Buluh Bedasar dan desa Timangu. Kamipun menyusuri jalan tersebut. Langkah demi langkah diiringi doa semoga jalan yang kami tempuh ini jalan yang benar. Tak berapa lama, tiba-tiba bang Ijul yang telah berjalan jauh di depan berkata “kita ketemu orang kampung!!”. Kami semua senang karena kami bisa bertanya kemana arah jalan yang benar. Ternyata,, mereka bukan orang kampung, tetapi rombongan FISIPIONEER yang juga melaksanakan kegiatan Latihan Pemantapan. Rasa bahagia menyelimuti kami. Senang karena masih bertemu manusia *lebay ;D. Setelah pertemuan kami dengan rombongan Fisipioneer kami bersemangat karena jalan yang kami tempuh ini sudah pasti jalan yang benar karena rombongan FISIP jalur Lat-Pannya berlawanan arah dengan jalur kami. Tak lama kemudian kami menemukan sungai, kamipun beristirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan kembali hingga menemukan kembali sungai yang bernama “Sungai Hijau”. Di tepi sungai Hijau terdapat tempat yang sangat strategis untuk basecamp, kamipun beristirahat, masak dan makan. Selesai makan, beres-beres dan packing, gerimis turun, tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan menuju tanjakan nini bakat. Hari sudah mulai remang, tetapi kami masih bersemangat. Suara burung dan Uwa-uwa semakin menyemarakkan perjalanan kami. Tidak sampai 30 menit kami sampai di puncak nini bakat. Kamipun berhenti sejenak sambil menunggu anggota tim lengkap dan melanjutkan perjalanan menuruni tanjakan nini bakat. Disinilah pacet (nama daerah : halimatak) semakin merajalela, menempel di kaki, tangan dan menghisap darah kami tanpa permisi. XD.
Hari semakin gelap, kami terus berjalan dengan berpatokan pada streamline mapala Fisip. Kami bertemu dengan orang kampung yang membuat basecamp di tepi sungai. Kamipun berbincang-bincang sejenak dan mencari informasi tentang jalan menuju sungai Alay. Setelah mendapatkan informasi dari orang kampung, kami melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, setiap menemukan simpangan, kami selalu survey sebelum menentukan jalan mana yang akan kami tempuh. Karena gelap dan senter yang kami miliki tidak memadai, kami sedikit kesulitan untuk fokus berjalan dengan kondisi fisik yang lemah dan cahaya yang terbatas. Kami terus berjalan hingga akhirnya kami kehilangan petunjuk (streamline mapala Fisip) dan memutuskan untuk mendirikan basecamp di tepi sungai. Sebenarnya sangat beresiko mendirikan basecamp di tepi sungai, akan tetapi, melihat kondisi langit yang cerah dan bertabur bintang, kami memberanikan diri untuk mendirikan basecamp di tepi sungai ini. Beberapa menit kemudian kami mulai sibuk menyalakan api, mencari kayu, dan memasak. Karena kayu-kayunya basah, kami sedikit kesulitan menyalakan api sehingga masakan kami lambat masak. Ka Eka, Ka Went dan bang Raul sudah terlelap beralaskan terpal. Sementara aku, Rini dan Angie meniup api supaya makanan kami cepat masak, bang Benny, bang Ijul, Jaka dan Ozan mencari kayu dan menyalakan api untuk menghangatkan kami semua yang kedinginan. Entah bagaimana kelanjutannya, aku tertidur beralaskan matras di sebelah api.
Sabtu, 23 Juli 2011
Waktu menunjukkan pukul 04.00 am, aku terbangun karena mendengar Ozan dan dingsanak lainnya bercanda. Kamipun santai sejenak, kemudian masak dan makan. Selesai makan, beres-beres dan packing, kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Sungai Alay. Kami sudah molor dari jadwal sebelumnya. Seharusnya, hari ini kami sudah berada di Sungai Alay dan membuat rakit untuk materi divisi air. Saat memulai perjalanan, kami menyadari bahwa kami mendirikan basecamp di simpang sungai Keruh. Dengan hati riang kami melanjutkan perjalanan menuju sungai Alay. Dalam perjalanan menuju sungai Alay, kami bertemu dengan senior kami, bang Adan yang telah dua hari menunggu kami di Panitiranggang. Rasa senang, lelah dan takut bercampur menjadi satu. Kamipun diintrogasi tentang keterlambatan kami dari jadwal kegiatan. Setelah diintrogasi kami pun melanjutkan perjalanan menuju sungai Alay.
Selama ± 2 jam kami sampai di basecamp sungai Alay. Sesampai di basecamp, kami segera membersihkan diri dan masak, sementara anggota tim cwo mencari bambu untuk membuat rakit (bahasa daerah : lanting). Keadaan basecamp tidak jauh berbeda dengan 2 bulan yang lalu. Sebelumnya kami pernah mendirikan basecamp disini dalam perjalanan pulang menuju desa Kiyu dan desa Juhu. Pukul 04.00 pm kami mulai membuat rakit dengan arahan dari bang Adan. Rakit yang kami buat berukuran besar. Menjelang senja kami selesai membuat rakit dan kami puas degan hasil kerja kami. Hari mulai gelap, makanan telah masak, kamipun segera makan, rapat evaluasi dan istirahat.
Minggu, 24 Juli 2011
Waktu menunjukkan pukul 04.30 am. Kami bangun dan mulai memasak. Pukul 05.30 am kami beres-beres, packing dan persiapan untuk susur sungai Alay menuju desa Batu Perahu. Pukul 10.00 am kami mulai menyusuri sungai yang debit airnya turun sehingga kami kesulitan dalam mengendalikan rakit agar dapat meluncur dan membawa carier-carier kami. Karena aku tidak bisa berenang, aku hanya membantu mengendalikan rakit di sungai yang tidak dalam, jika terdapat sungai yang dalam, aku berjalan di antara bebatuan. Sangat melelahkan, rakit yang berukuran besar, terbuat dari bambu yang masih basah dan dibebani dengan carier, serta kondisi rakit yang mulai hancur karena terhantam bebatuan membuat kami kewalahan. Di persimpangan sungai kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang. Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami. Semakin lama rasanya kami semakin tidak bersemangat karena kondisi tubuh yang lemah, ngantuk,dan lapar menjadi satu. Sekitar pukul 01.00 pm kami memutuskan untuk memperbaiki rakit yang kondisinya sudah tidak layak. Berdasarkan kesepakatan bersama, kami memutuskan untuk membagi rakit menjadi dua. Bagian atas yang berbentuk segiempat di handle oleh tim cwo, sedangkan bagian bawah yang bentuknya meruncing kami yang menghandle. Dan benar saja, perjalanan kami menjadi lebih mudah, rakit yang tidak terlalu besar dengan beban yang tidak terlalu banyak membuatnya mampu meluncur dengan mulus di sungai yang dangkal meskipun sesekali tersangkut di bebatuan besar. * Alhamdulillah ;). Kamipun mengejar rakit yang meluncur dengan riang hingga kami tiba di jatuhan air terjun yang curam, kami berhenti untuk menunggu tim cwo. Sementara ka Went menyusul tim cwo, kami duduk di atas bebatuan di sungai yang situasinya membuat bulu kuduk meremang. Yagh..hari sudah mulai gelap, bau-bauan yang semerbak mulai tercium hidung kami, suara-suara hewan membuat suasana semakin menyeramkan. Tidak lama kemudian ka Went dan tim cwo datang. Kemudian ka Went meminta kami untuk menghancurkan rakit kami karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk tetap membawa rakit menuju desa batu perahu. Ya,, kami lepas sama sekali dari target. Seharusnya perjalanan dari sungai Alay-desa Batu Perahu dapat ditempuh dalam waktu ±8 jam, akan tetapi kami gagal. ;(. Setelah melepaskan semua weebing dari rakit, kami mulai trekking menuju desa Batu Perahu dengan beriringan, melewati batuan demi batuan dengan bergandengan tangan dan menggunakan senter sebagai alat penerangan. Kami sudah jauh berjalan tetapi kami tidak juga sampai. Akan tetapi, kami terus berjalan dan berjalan. Dari kejauhan kami melihat cahaya senter. Kamipun gembira, kami berharap cahaya senter itu merupakan petunjuk bahwa desa Batu Perahu sudah dekat. Setelah kami mencapai cahaya senter itu ternyata hanya ada Basri, bang Cist dan bang Raul. Mereka membawakan kami makanan. Dalam waktu singkat, makanan dari mereka langsung ludes karena kami semua kelaparan. ;(. Bang Raul pada awalnya bersama dengan ka Went mengiring kami, akan tetapi beliau memutuskan untuk lebih dulu menuju desa Batu Perahu untuk memberi kabar kepada senior-senior yang telah menunggu kami. Karena kami mulai kedinginan dan jarak yang kami tempuh untuk sampai ke desa masih jauh, bang Cist mengarahkan kami untuk menempuh jalan setapak yang biasa dilalui warga desa menuju kebun. Cukup lama kami berjalan dengan langkah yang terseok-seok hingga akhirnya kami sampai di desa. Perasaan kami semua sangat senang karena kami tidak tersesat lagi. ;). Saat istirahat tadi, kami diberitahu oleh bang Cist, Basry dan bang Raul bahwa basecamp kami malam ini bukan di rumah kepala desa/pembakal, tetapi di sungai. *Blugg..langsung feeling gak enak ;O. Pukul 12.00 pm kami sampai di basecamp, di sana sudah menunggu senior-senior seperti bang Adan, bang Farid, dan bang Deden. Kami masuk basecamp melalui gerbang dan wajib mencium bendera IMPAS-B. Kemudian kami meletakkan carier dan berbaris. Kami diintrogasi mengapa kami terlambat dari jadwal awal. Kamipun direndam. Kami semua menggigil kedinginan. Setelah direndam, kami ganti baju, mencari kayu, masak dan makan bersama, kemudian istirahat di dekat api unggun.
Senin, 25 Juli 2011
Entah pukul berapa, yang aku tahu, hari masih gelap dan udara masih sangat dingin. Aku dibangunkan Basry dan diminta untuk segera menemui bang Farid di bebatuan. Dengan tergesa-gesa aku dan bang Benny berlari menemui bang Farid. Sesampai di sana kami dipush up 5 kali oleh bang Raul, kemudian duduk menghadap mereka dan diintrogasi. Kamipun ditanyai divisi apa yang akan kami pilih. Dengan mantap aku menjawab bahwa aku memilih divisi hutan. Bla…bla…bla… Selanjutnya kami menuju posko bang Deden dan bang Cist, yaitu posko divisi Goa. Begitu sampai di posko divisi Goa, kami direndam beberapa detik. Biarpun sebentar, sumpah..dingiiiiinnnnnn bangettt… ;S. Bla…bla…bla… Posko selanjutnya yaitu posko bang Adan yang menghandle divisi air. Sesampai kami di posko divisi air, kami disuruh duduk di air. Hummmm makin dingiiiinnn rasanya.. ;(. Bla…bla…bla… Posko terakhir yaitu posko Basry dan ka Went, yaitu posko divisi Gunung. Alhamdulillah…di posko ini kami tidak disuruh berendam atau push up. Kami hanya ditanyai tentang divisi apa yang akan kami pilih dan alasannya. Baiknyaa mereka.. ;). Hufth…akhirnya selesai sudah acara posko-poskoannya. Kamipun berbaris sesuai nomor urut, yaitu Bang Beny, bang Ijul, ka Eka, Ozan, Angie, Aku (Ambar), Rini, dan Jaka. Lagi-lagi kami direndam. Kami baru menyadari bahwa apa yang kami jalani tadi dan saat ini adalah rangkaian prosesi penyematan selayer. Kami sama sekali tidak menyangka bahwa penyematan selayer dilaksanakan pada hari ini karena menurut perhitungan, jadwal kepulangan kami akan mundur 1 hari, tetapi ternyata tidak. Satu persatu dari kami disematkan selayer oleh senior-senior. Tidak lupa kami diperciki air dan dipaksa untuk meminum air yang rasanya sangat aneh. ;S. Setelah acara penyematan selayer selesai, kami bersama-sama mengucapkan IKRAR IMPAS-B dengan lantang. “IKRAR IMPAS-B..Ikrar, janji dan sumpahku demimu..Malam dengan bulan dan bintang menjadi saksi..Pada baktiku hingga akhir hayat..Akan ku korbankan jiwa dan ragaku..Selamanya IMPAS-B engkaulah tempat kami mengabdi..Bersama doa, semoga Tuhan melindungi kami anggota IMPAS-B”. Kemudian kami menyanyikan lagu Mars IMPAS-B bersama-sama dan saling merangkul pundak. “Melangkah kita bersama..dalam satu ikatan keluarga..dengan semangat dan doa meraih cita-cita menuju ke puncak terjaya..disinilah kita berdiri..berikrar bersumpah dan berjanji..menghadapi tantangan demi satu tujuan jangan kau ragu saudaraku..hiduplah..hidup..hidup IMPAS-B ku..harumlah namamu slalu..hiduplah..hidup..hidup IMPAS-B ku..engkaulah tempat kami mengabdi..selamanya padamu ku berjanji”. ;). Rasa bahagia, bangga, terharu dan sebagainya menjadi satu. Kamipun tidak melewatkan moment ini untuk diabadikan. Setelah selesai berfoto, kami tim cwe segera memasak sementara tim cwo packing barang.
Schedule kami selanjutnya yaitu observasi goa Liang Tandui. Selesai makan dan beres-beres, kami diberi pengarahan oleh bang Deden tentang obeservasi goa yang akan kami lakukan. Selesai pengarahan, kami cek perlengkapan dan segera berangkat ke desa (basecamp kami di tepi sungai). Sesampainya di desa, kami segera mencari informasi tentang jalan menuju goa tersebut hingga akhirnya kami menyewa guide dengan upah sebesar Rp 30.000,00. Pukul 09.00 am kami berangkat menuju Goa Liang Tandui. Kemampuan berjalan orang kampung dibandingkan dengan kami jauh di atas rata-rata. Mereka dengan lincah dan gesit berjalan melewati semak belukar dan mendaki bukit demi bukit dengan riang, sementara kami, mati-matian melangkahkan kaki untuk mencapai puncak. Sesampai di badan bukit, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Puncak Halau-halau (gunung tertinggi di Kalimantan Selatan) terlihat jelas di hadapan mata, disusul dengan puncak Kilai yang pernah kami jalani 2 bulan yang lalu. Setelah puas menikmati pemandangan, kami segera melanjutkan perjalanan kami. Mendaki, mendaki dan terus mendaki hingga akhirnya sampailah kami di sebuah goa vertical yang kedalamannya ditaksir ± 150 m. Goa ini terletak pada ketinggian ± 500-700 mdpl. Sesampai di goa, bang Adan dan tim cwo segera memasang anchor sementara tim cwe istirahat. Pukul 10.30 am satu persatu anggota tim menuruni goa vertical ini. Yang menuruni goa ini antara lain bang Adan, ka eka, ka Went, dan Rini.
Pukul 02.30 pm kami selesai observasi goa, kami segera membereskan peralatan dan packing, kemudian kembali ke desa untuk persiapan menuju desa Batukembar. Sesampai di desa, kami beristirahat di rumah warga, bersosialisasi dan berpamitan. Setelah berpamitan, kami turun ke sungai tempat basecamp kami tadi malam. Kami segera memasak, makan, dan packing. Pukul 20.00 pm kami mulai trekking menuju desa Batukembar. Slowly but sure, selangkah demi selangkah kami mendaki gunung yang jalannya beraspal. Kami berusaha untuk menggunakan waktu seefisien mungkin supaya kami dapat sampai di desa Batukembar sesuai target.
Selasa, 26 Juli 2011
Pukul 01.00 am kami sampai di desa Batuperahu. Pada awalnya kami sempat berpikir bahwa kami tersesat lagi. Akan tetapi, kami terus berjalan dan berjalan dan sampailah kami di rumah julak. Dengan sopan kami mengetuk pintu rumah julak, berusaha meminimalisir volume suara karena dini hari. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya julak bangun dan membukakan pintu untuk kami. Kamipun segera masuk, meletakkan barang-barang dan berbincang-bincang sejenak dengan julak sebelum akhirnya kami semua tertidur karena kelelahan. Pukul 04.00 am aku terbangun karena kedinginan. Tak lama Ozan pun bangun, kami makan mie instan dan snack karena kelaparan. Pukul 05.00 am ka Eka bangun, kemudian kami memasak untuk makan pagi. Setelah kami selesai makan, beres-beres dan packing, kami beristirahat melepas lelah setelah trekking malam selama ± 5 jam. Pukul 09.00 am kami berangkat ke jalan utama Batukembar untuk menunggu mobil. Sebelum berangkat, kami berpamitan dengan julak dan berfoto bersama.
Pukul 09.30 am kami memutuskan untuk menunggu mobil di tepi jalan di bawah pohon rindang sambil berusaha menghubungi supir pick up. Karena di daerah ini signal terbatas, kami harus naik ke puncak bukit untuk mencari signal. Sementara menunggu mobil datang, kami memanfaatkan waktu dengan istirahat seperti tidur, ngemil. Selama ± 6 jam menunggu kami mulai bosan, kamipun mulai gila-gilaan main musik ala perkusi dengan alat masak. Hasilnya, alat masak kami bentuknya tidak seperti semula karena tangan-tangan kreatif ka Went, Ozan, Jaka, dan bang Benny. Ketika logistik sudah habis dan kami semua kelaparan…”net.not.net.not (suara sirine paman pentol)”..walhasil, kami semua menyerbu gerobak paman pentol yang tak berdosa itu..wkwkwk ;D. Selesai menyerbu gerobak paman pentol, kami semua semakin tidak sabar menunggu. Akhirnya aku, Ozan, Rini dan Angie menuju puncak bukit untuk mencari signal untuk menghubungi supir pick up. Dengan hati-hati kami mendaki bukit batu yang terjal tetapi kami belum juga mendapatkan signal. Kamipun hampir putus asa. Tiba-tiba ada mobil datang dari arah Birayang dan kami mengenali orang yang ada di dalam mobil itu, bang Aji (Ketum) dan Syadan. Dari atas puncak kamipun berteriak-teriak hingga akhirnya mobil pick up berhenti. Kami sangat gembira karena mobil yang kami tunggu selama ± 7 jam datang juga. Kami segera berlari menuju basecamp sementara kami untuk memberitahu dingsanak yang berada di basecamp dan mengangkut carier. Setelah semuanya berkumpul, kamipun meluncur pulang ke Banjarmasin dengan hati riang dan membawa sejuta cerita yang tidak akan pernah kami lupakan dalam hidup kami. ;).
AKU CINTA IMPAS-B!!!
Foto-foto Dokumentasi
