Puncak Tertinggi Jawa. Mt. Semeru 3676 mdpl
Rabu, 13 Mei 2015
kuliah terakhir sebelum long weekend. Aku pamitan dan minta doa restu
teman-teman di kelas untuk pendakian kali ini. Belanja dan packing. Selesai. Jam 6 sore sebelum
maghrib aku diantar Nofiar ke terminal bus Rosalia Indah. Sesampainya disana
baru ada Bara, Yayak, Mella dan beberapa orang lainnya yang aku belum kenal.
Aku bergegas shalat maghrib karena memang sengaja nggak shalat di kos karena takut ketinggalan bus. Sekitar jam 7 p.m. aku dan
rombongan sebanyak 1 orang yang terdiri dari aku, Azum, Fany, Mella, Yayak,
Bara, Aryo, Agus, dan Denny berangkat menuju Malang. Ngapain?? Jadiii,
ceritanya kita ini mau mendaki ke Semeru. 3676 mdpl. Are you sure?? Hmmhhh,,
actually, i'm not sure. Why??? Karena sebenarnya, kondisi kesehatanku waktu itu
kurang baik. Entah gugup atau sakit atau apa. Yang jelas badanku nggak enak.
Tapi bukan Ambar namanya kalau nyerah sama keadaan. Apalagi ini tentang misi
pendakian ke puncak tertinggi Jawa. Narget muncak sih enggak, sesampainya aja,
karena aku sadar banget gimana kondisi fisikku dan juga aku pergi tanpa restu
orangtua. Horor sebenarnya hiking ke gunung setinggi itu dengan berbagai mitos
di dalamnya tanpa izin dan restu orangtua. Tapi yasudahlah. Karena kalau aku
izin dengan ibu bapak aku sangat tau apa jawaban mereka, jadi lebih baik aku
akan ceritakan semuanya setelah aku kembali ke Jogja. Nekat !
Kamis, 14 Mei 2015 sekitar jam 3 a.m. bus kami sampai di Malang. Masih
sangat pagi, tetapi aktivitas masyarakat di pasar tradisional sudah sangat
ramai. Kami diberhentikan entah dimana dan bayar berapa itu urusan bendahara,
aku hanya ngumpul data dan uang, dan terima beres. Enak yaaa. Heheeew. Setelah diturunkan dari bus kami pun berjejer rapi di
pinggir jalan raya menanti angkot yang akan mengangkut kami ke pasar Tumpang.
Nggak lama kemudian ada angkot yang menghampiri kami dan mulailah ibu dan bapak
bendahara melancarkan aksi tawar menawarnya dan berangkatlah kami ke pasar
Tumpang. Pasar Tumpang adalah pasar yang menjadi akses
transport terakhir menuju desa Ranu Pane. Yeay. Sesampainya di Pasar Tumpang
aku segera menghubungi teman-temanku dari Banjarmasin yang sudah seperti
keluarga karena satu kampus, satu kelas, dan partner di organisasi. Setelah
bertemu dengan teman-temanku sebut saja bang Halim, Julian, Aghan dan Anisa aku
dan teman-teman cewek dari Jogja segera menuju masjid
untuk melaksanakan shalat subuh dan bersih-bersih badan. Dan alangkah
terkejutnya, kami dilarang shalat. Alasannya? Kata bapak penjaga mesjid waktu
subuh sudah habis, jadi kami dilarang masuk mesjid. Aku dan teman-teman
langsung shock. Ada ya umat muslim dilarang masuk rumah Allah. Rasanya itu
aneeeh dan bingung. Yasudahlah akhirnya kami diperbolehkan untuk sekedar cuci
muka. Dan memang benar masjidnya dikunci secara keseluruhan.
Kami juga diusir oleh bapaknya untuk segera meninggalkan masjid karena masjid akan dikunci. Lho
kok ada ya rumah ibadah tapi gini. Entahlah. Mungkin itu cara warga disana
menjaga mesjid mereka. Bawa senyum ajaaa :)
Setelah membereskan muka dan barang
bawaan kami segera menyusul teman-teman kami di sebelah selatan pasar untuk
menegosiasi jeep. Lamaaaaaaa sekaliii. Hshhhh rasanya semakin nggak karuan,
nggak ada kepastian kapan kami akan diangkut menuju Ranu Pane. Hari semakin
siang dan kami khawatir tidak dapat kuota. Kenapa khawatir? Karena pendakian
gunung Semeru menerapkan sistem kuota. Dan kuota maksimal 500 orang setiap
harinya kalau nggak salah. Padahal, hari itu, jumlah pendaki yang tumpah ruah di pasar Tumpang jumlahnya sangat banyak, mungkin ratusan.
Belum terhitung yang sudah berada di Ranu Pane, Ranu Kumbolo, Kalimati dan
Puncak.
Setelah lama menunggu akhirnya
kami diberangkatkan dengan naik....TRUK! Wow. Nggak seindah dalam film 5cm
guys. Haha. Rasakan rasakan. Aku sih enjoy aja karena udah biasa naik truk.
Zaman Lat-Das mapala dan Dik-Sar KSR PMI selalu saja truk menjadi angkutan yang
setia mengangkut kami dari kampus ke hutan raya. Nikmati sajaa. Yang nggak
nikmat itu panasnya, debunya. Kalau kebersamaan sih sudah pasti. Itu yang dicari
dalam setiap perjalanan. Moment kebersamaan baik susah maupun senang yang nggak
tergantikan oleh apapun. Dan aku menikmatinya.
Perjalanan dari pasar Tumpang-Ranu
Pane kurang lebih 2 jam. Perjalanannya? Wuhuuuu jangan ditanya. Amazing ! Haha.
Jalannya meliuk-liuk berasa naik roller coaster tapi bonusnya view yang bikin
hati dan mulut kita nggak berhenti menyebut nama Allah. Subhanallah. Masya
Allah. Allahu Akbar. Pemandangannya sangat cantik. Cantik. Cantik.
Dan aku jatuh cinta dengan taman
nasional ini. Terus. Terus dan
terus.
Setelah menempuh perjalanan 2 jam
akhirnya kami sampai di Ranu Pane, disambut udara dingin dan debu yang luar
biasa. Kami pun bergegas ke posko registrasi, breafing dan makan sebelum
memulai pendakian. Aku lupa jam berapa kami mulai mendaki. Yang ku ingat hari
masih siang dan aku sempat berfoto di depan gerbang pintu masuk pendakian.
Heheh.
Jalur treknya sih lumayan, nggak
terlalu nanjak. Tapi rasanya badanku nggak karuan dan jalanku lambaat. Akhirnya
setelah beberapa jam berjalan teman-teman mengintrogasi barang bawaanku dan
mereka membongkar carrierku dan bilang…”pantesaaaan kayaknya berat banget carriernya
ternyata isinya buanyakk”. Iyalah gimana nggak
berat kalau yang ku bawa itu ada oksigen 2 tabung, gas 2 tabung, wortel 1 kg,
kentang 1 kg dan entah apa lagi. Akhirnya mereka mengurangi barang bawaanku dan
badanku rasanya langsung melayang karena berat bebanku dikurangi. Btw thanks guys, hehe. Jalanku pun menjadi cepat.
Rasanya nggak karuan. Hari mulai gelap. Aku dan teman-teman terus berjalan
melewati pos demi pos yang nggak sempat ku abadikan karena mengejar waktu ingin
segera sampai di Ranukumbolo. Sampai di pos 2 aku dan teman-teman istirahat
sejenak untuk sekedar mengisi perut. Hari mulai gelap dan udaranya sangat
dingin menusuk tulang. Brrrrr. Aku jalan berdua dengan Novian. Dia bertugas
untuk mencari camp area di Ranukumbolo karena dikhawatirkan area camp penuh
melihat banyaknya pendaki yang naik. Jalanan macet. Karena nggak tahan dingin
akhirnya aku ikut Vian. Kami pun berjalan sangat cepat hingga akhirnya kami
kelelahan, istirahat dan bertemu dengan teman kami yang lain dan melanjutkan
perjalanan bersama-sama. Sepanjang perjalanan Vian terus berbagi pengalamannya
tentang mendaki gunung. Dan ini kali ketiga dia ke Semeru. Wow. Karena terus
bercerita sepanjang jalan, nggak terasa kami semua sampai di atas Ranukumbolo.
Vian bilang di bawah kita Ranukumbolo. Dengan sisa semangat dan sisa tenaga aku
dan teman-teman lainnya bangun, berusaha melihat, tetapi zonk. Gelap euy. Yang
terlihat hanya lampu-lampu penerangan dari tenda pendaki di camp area. Kamipun
istirahat, meluruskan kaki, meletakkan carrier dan menikmati bintang yang
bertaburan di langit sambil menunggu teman kami yang masih tertinggal di
belakang. Setelah anggota tim lengkap,
kami segera mencari lokasi untuk mendirikan tenda. Jauh. Karena camp area
standar di Ranukumbolo sudah penuh. Entah berapa ratus tenda yang berdiri
disana. Akhirnya kami mendirikan tenda di Cemora telu. Katanya sih karena
lokasi tempat kami mendirikan tenda ada di antara pohon cemara. Apa iya? Iya
aja deh karena beberapa cowok udah survei dan mendirikan tenda di sana. Suhunya gimana? Ohhh jangan ditanya. Seandainya bawa
thermometer mungkin angkanya menunjukkan minus sekian derajat Celcius.
Sangat-sangat dingin, menggigil. Brrrrrrr.
Tim ku terdiri dari 5 orang.
Putra putri Kalimantan Selatan. Aku, Aghan, Nisa, Julian dan Bang Halim.
Ternyata Julian nggak tahan dingin. Alhasil yang mendirikan tenda bang Halim,
dan aku membantu sedikit meski dilarang sama bang Halim. Aku nggak tega
ngelihat dia ndirikan 2 tenda sendirian, mana udaranya dingin banget. Brrrr.
Selesai mendirikan tenda kami segera menghangatkan diri dengan memasak air dan
makanan. Berkumpul dalam 1 tenda supaya hangat untuk makan dan minum. Setelah
selesai bang Halim keluar dan tidur sendirian di tendanya. Sedangkan kami
berempat 1 tenda. Meskipun berempat, suhu masih terasa sangat dingin, membuat
kami menggigil dan susah tidur meskipun kami sudah ganti baju, berlapis baju
jaket celana kaos kaki sarung tangan dan sleeping bag. Ya Tuhaaaaan dingin
sekaliii.
Jumat, 15 Mei 2015 hari mulai terang tapi suhunya masih dingin banget. Aku
bangun dan memberanikan diri membuka pintu tenda dikiiit aja buat ngintip view
di luar. Subhanallah. Cantiiiiiiiiiikkk banget view Ranukumbolonya. Refleksi
pohon dan tenda di permukaan danau benar-benar membuat aku setuju bahwa
Ranukumbolo adalah surganya gunung Semeru.
Tanpa membuang waktu aku segera keluar dari tenda
untuk menikmati setiap detik yang ku punya di surganya gunung Semeru dengan
mengabadikan momen, puas-puas memandangi penampakan surga dan yang pasti foto
selfie, foto salam dan bikin video. Berlebihan? Nggak lahh wajar dong karena
perjuangan kesininya aja luar biasa. Yang penting kita nggak buang sampah sembarangan
dan tetap jaga kebersihan alam.
Nggak terasa udah berjam-jam mengabadikan momen dan
aku mulai lapar. Akhirnya aku dan timku masak seadanya dengan logistik yang
kami bawa dari rumah. Yahh ala-ala survivor. Setelah makan dan beres-beres kami
mengabadikan momen lagi sebelum kami bertolak ke Kalimati.
Aghan dan Nisa memutuskan untuk stay di Ranukumbolo
karena fisik mereka nggak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan, sedangkan
aku, bang Halim dan Julian ikut meneruskan perjalanan dengan tim ku dari Jogja.
Karena Aghan bakal stay di Rakum, dia minta temenin Julian ke Tanjakan cinta
dan Oro-oro ombo buat foto. Akhirnya aku dan bang Halim sepakat buat nungguin
Julian buat trek bareng ke Kalimati. Sementara tim dari Jogja berangkat duluan ke
Kalimati, aku dan bang Halim masih setia nunggu Julian. Nunggu nunggu nunggu
dan nunggu. Berjam-jam kami nunggu tapi Julian nggak muncul-muncul juga. Bang
Halim pun kasih deadline sampai jam 2 kalau mereka belum datang kami berangkat
berdua ke Kalimati. Akhirnya sampai jam 2 mereka belum muncul, aku dan bang
Halim berangkat bawa tenda tanpa peralatan masak dan logistik. Kami
meninggalkan Nisa dan nitip pesan supaya nanti Julian nyusul kami dan bawa
logistik serta peralatan masak, kami nunggu di Cemoro Kandang sampai jam 3 p.m.
Dan kemudian berangkatlah kami ke Kalimati. Berjalan sambil menikmati
pemandangan dan mengabadikan momen dengan berfoto hingga sampailah kami di
tanjakan cinta. Woooooow. Ternyata memang berat menapaki tanjakan cinta. Pantas
saja, pemandangan pendaki yang mendaki tanjakan cinta dari tenda yang terlihat
seperti semut, ternyata memang benar-benar tanjakan dan bikin ngos-ngosan. Bang
Halim mau buktiin mitos tanjakan cinta yang katanya kalau kita terus berjalan
tanpa melihat ke belakang sambil memikirkan orang yang kita sayang, harapan
kita terkabul, katanya. Tapi apa daya bang Halim dia gagal mbuktikan mitos
karena ku gangguin dan ku paksa lihat ke belakang. Haha. Rugi lah bang kalau nggak
lihat ke belakang, pemandangannya cantik banget. Hfffff.
Setelah sampai di puncak tanjakan cinta kami istirahat
sebelum meneruskan perjalanan ke oro-oro ombo. Waktu turun dari oro-oro ombo
kami memilih jalur pintas yang lebih curam tapi bonus viewnya luar biasa.
Berjalan diantara Verbena brasiliensis
yang warnanya ungu. Berasa di padang Lavender semu. Lalalalaaaaa. Mata kami
tidak pernah lelah menikmati pemandangan keajaiban Tuhan di depan mata. Sejauh
mata memandang, hamparan bunga Verbena, pegunungan, sabana..luar biasa..
Subhanallah..tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Melangkah dan terus
melangkah. Kami pun mencari teman. Dapat. Yeay. 2 orang pendaki dari kota mana
ya lupa, yang mau ke Kalimati juga. Jadi aku ajakin ngobrol deh mas-masnya
ngajakin barengan. Basa-basi sih, lebih tepatnya modus karena aku dan bang
Halim khawatir tersesat. Hiks. Ehhh ternyata kami sampai di Pos Cemoro Kandang.
Dan coba tebak kami bertemu siapa? Novian! Alhamdulillah…. Bahagiaaaaaaa banget
rasanya kami ketemu Vian. Ternyata dia beneran nungguin kami. Padahal lama
banget hampir 4 jam. Ya ampun Vian… seneeeng banget rasanya. Dan coba tebak
berita apa yang aku dan bang Halim dengar? Vian bilang, dia lihat Julian dan
Aghan dari Kalimati. Ya ampun, rasanya jengkeeeeelll banget aku sama bang
Halim. Kami berdua nungguin mereka berjam-jam. Pamitnya cuma mau ke tanjakan
cinta dan oro-oro ombo ternyata sampai kalimati. Ya iyalah nggak nyampe-nyampe.
Rasanya menyumpah dalam hati dan bersyukur kami telah mengambil keputusan
dengan tepat dengan berangkat tanpa mereka. Setelah istirahat sebentar kami
segera meneruskan perjalanan melewati hutan pinus, hutan mati. Perjalanannya
cukup melelahkan. Sekitar 4 jam perjalanan dengan trek yang cukup melelahkan
dan antri. Kami juga melewati Pos Jambangan yang banyak Edelweisnya. Dan dari
Jambangan, Mahameru terlihat jelas dengan sulfutara dari kawah Jonggrang
Seloka. Bikin semakin semangat buat cepat sampai di Kalimati. Hmmmmh. Hari
mulai gelap. Kami bertiga terus berjalan sementara bang Halim terus menapak
tilas jejak film 5cm. haha bang Halim bang Halim ada-ada aja. Taraaaaa akhirnya
sampailah kami di Kalimati. Dan kamipun teriak-teriak manggil teman-teman kami
yang udah nyampe duluan. Kenapa teriak? Karena jumlah tenda yang ada di
Kalimati banyaaaak sekali. Mungkin ratusan tenda. Wooooow. Kamipun segera
mencari tenda teman-teman kami daaaan dapat. Alhamdulilah. Mereka udah ndirikan
tenda dan lagi sibuk masak. Setelah melepas carrier, cerita kenapa bisa
kemalaman dan istirahat, aku membantu mereka menyiapkan makan malam sementara
bang Halim mendirikan tenda. Setelah makan malam dan breafing sebentar, kami
istirahat untuk persiapan summit attack dini hari nanti. Hmmm whateverlah yang
penting aku mau tidur. Dingin dan capek banget rasanya. Hiksss. Akhirnya
tidurlah aku bertiga dalam tenda dengan bang Halim dan Vian. Aku paling
pinggir, bang Halim di tengah dan selanjutnya Vian. Huuaaaaa mau tau berapa
lapis baju dan celana yang ku pakai?? Ratusaann! Eh enggak kok. Cuma atasan 5
lapis dan bawahan 4 lapis. Pake jilbab, tapih, sarung tangan, kupluk jaket 2, kaos
kaki entah berapa lapis dan pakai sepatu. Berasa kayak mumi. Haha. Dan dengan
keadaan seperti itupun aku masih menggigil. Hellooow. Niatnya tidur, istirahat
malah nggak bisa tidur. Ya Allah dingin bangettt. Coba kalau di kos mesti nggak
bakal kedinginan, tidur di kasur, anget.. hmmm. Sssttt sudahlah inikan pilihan,
nggak boleh mikir gitu. Hari yang panjang. Tidur tidur tidur..paksa tidur.
Zzzzzzzz.
Sabtu, 16
Mei 2015 waktu menunjukkan pukul 2
a.m. hoaaammm sudah pagi ternyata. Suhu masih sangat tidak bersahabat. Kami
semua segera keluar tenda dan breafing penentuan siapa saja yang summit attack dan
siapa yang stay. Akhirnya dari sekian rombongan yang stay di tenda Vian dan
Fajar. Yang lain berangkat. Aku dan bang Halim?? Hmmm. Aku dan bang Halim
ngobrol dari hati ke hati. Ceileh nggaklah. Cuma kami berdua sama-sama nggak
yakin bisa nyampe puncak. Masalahnya, keadaan jalur treknya itu super macet.
Kelihatan dari camp, kerlap-kerlip lampu senter pendaki menumpuk di beberapa
tempat, artinya, maceeeet ! daan setelah lama ngobrol akhirnya aku dan bang
Halim sepakat buat ikut summit attack.
Oke, mari kita mulai trekking. Benar-benar trekking
ditengah suhu yang sangat tidak bersahabat dan hujan abu. Baru beberapa meter
dari camp nafasku udah mulai nggak stabil, kepalaku mulai pusing karena suhu
ekstrem. Ya. Aku memang alergi suhu dingin dan debu. Asma. Arrghhhh ! aku harus
bisa, aku kuat, aku nggak boleh nyusahin mereka. Tekadku luar biasa. Bang Halim
terus njagain aku. Dia bawa daypack yang isinya perlengkapan kesehatanku. Ada
oksigen dan lain-lain, juga SB dan jas hujan. Semakin lama mendaki tingkat
kecuraman semakin tinggi. Semakin capek semakin dingin. Kadar oksigen semakin
berkurang dan aku semakin kesulitan bernafas. Tapi aku terus maksakan diri
ditambah semangat dari teman-teman yang lain. Nggak usah dipaksa, sesampainya
aja, kondisinya kayak gini, macet. Kata-kata itu terngiang-ngiang di telingaku.
Banyak sekali pikiran-pikiran dalam kepalaku tentang segala macam resiko yang
mungkin bakal ku hadapi. Apalagi beberapa kali ada pendaki yang dievakuasi
karena cidera, karena hipotermia dan lain-lain. Ditambah lagi kami banyak
menemukan semacam kuburan. Tahukah kalian itu semua berpengaruh pada mental dan
fisik. Tapi aku terus menguatkan diri hingga sampailah kami di batas vegetasi.
Kami sampai d trek pasir. Di trek pasir perjalanan semakin sulit. Karena yang
diinjak benar-benar pasir dan bebatuan stabil yang siap jatuh menimpa kita
kapan saja. Setiap kita melangkah 2 langkah kita pasti mundur setengah langkah.
Perjalanan menjadi semakin lama dan semakin menguras tenaga didukung hujan abu
yang semakin menggila dan suhu yang dinginnya menusuk tulang. Bang Halim
menghampiriku dan bilang aku harus berhenti, jangan dipaksa, karena keadaanku
mulai mengkhawatirkan. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk berhenti. Setelah
mencari tempat yang aman untuk istirahat dan meluruskan kaki, kami memakai jas
hujan untuk mengurangi rasa dingin, dan membuka sleeping bag. Aku pun duduk
menikmati dingin dan pemandangan di depan mata yang mulai terlihat samar karena
matahari mulai muncul. Astaga. Bang Halim ketiduran. Aku segera membangunkan
bang Halim karena khawatir bang Halim jatuh. Percaya atau tidak, kami istirahat
di jalur pasir dan bebatuan yang debunya luar biasa dengan jurang di sisi kanan
dan kiri kami. Jadi sangat bahaya ! kan nggak lucu kalau pendaki dari
Banjarmasin jatuh ke jurang karena ketiduran. Hffff. kamipun segera pindah dan
mencari tempat yang lebih aman. Tiba-tiba muncul mas Aryo. Lahh ternyata dia
juga stop karena nggak tahan dingin. Ternyata dia juga asma. Nasib kita sama
mas. Ckckck.
Perlahan, matahari mulai muncul. Semburat
ungu..kemerahan dan jingga..muncullah matahari yang kehangatannya kami
nantikan. Sangat cantik. Matahari pagi di 3676 mdpl. Matahari pagi di atas
lautan awan. Subhanallah. Masya Allah. Dengan sisa tenaga, memaksa menguatkan
diri dari suhu dingin yang sangat ekstrim kami mengabadikan momen yang sangat
berharga ini. Setelah dirasa cukup hangat, kami pun turun ke basecamp Kalimati.
Perjalanan kami santai. Menikmati setiap detik setiap jengkal keindahan
ciptaanNya sepanjang perjalanan.
Sesampainya di basecamp, suasana sepi. Yang ada di
tenda hanya Fajar dan Rajan. Rajan dan Endah tiba di basecamp malam sekitar jam
11an. Mereka menyusul dan ngebut hari itu juga dari Ranu Pane-Ranu
Kumbolo-Kalimati. Gila. Semacam robot aja mereka berdua. Ckckck. Novian nggak
ada di tenda karena ngambil air di satu-satunya sumber mata air di Kalimati,
namanya Sumber Mani. Perjalanan ke mata air sekitar 30 menit. Di basecamp
Kalimati ini juga ada pedagang kok. Aku dan bang Halim beli bakwan dan tahu
yang rasanya aneeeh. Haha. Tapi lumayanlah buat ngganjal perut. Dan harganya,
jangan ditanya. Mahal lah. Wkwk.
Siang entah tepatnya jam berapa teman kami yang summit
mulai datang. Dan penampilan mereka memprihatinkan. Muka cemong-cemong karena
debu dan abu vulkanik, baju dan celana kotor. Wow deh. Ya ampuuuuuunnnn…kasian.
Terus mereka juga kehausan dan kelaparan. Yaiyalah, secara, kita mulai trek jam
2 atau jam 3 a.m. dan mereka baru nyampe basecamp Kalimati setelah tengah hari.
Entah jam berapa mereka nyampe puncak Mahameru. Ya ampunnn..
Setelah semua anggota tim lengkap, kamipun makan siang
dan beres-beres tenda untuk kembali ke Ranu Kumbolo sebelum besoknya kembali ke
Ranu Pane dan kembali ke Jogja. Semangaaaaatttt. Kangen kasur. Hehe.
Rencana dan wacana beda tipis. Iya. Karena rencana
awal kita balik ke Ranu Kumbolo siang ehh malah sore. Jadilah kami kemalaman di
jalan. Tapi gapapalah kan turun juga jadi nggak terlalu capek. Sesampainya di
Ranu Kumbolo kami bingung mau mendirikan camp dimana. Aku dan bang Halim
sepakat untuk mendirikan camp bareng teman-teman dari Jogja tapi kami menjemput
Aghan dan Nisa di lokasi camp awal. Ketika kami tiba di camp, Aghan dan Nisa
langsung histeris. Ternyata mereka mengkhawatirkan kami. Kami pun bingung. Dan
ternyata Julian di dalam tenda. Loh kok. Akhirnya berceritalah mereka..
ternyata, Julian ngantar Aghan sampai ke Kalimati dan kembali ke Ranu Kumbolo.
Setelah istirahat Julian menyusul aku dan bang Halim ke Kalimati. Ya ampun.
Robot jenis apalagi ini. Dan ternyata lagi, Julian nggak berhasil menemukan
kami di Kalimati karena keadaannya memang seperti pengungsian. Dan dia muncak
bareng rombongan pendaki lain. Aku dan bang Halim nggak percaya sampai dia
ngelihatin fotonya. Ya ampun ternyata beneran. Aku dan bang Halim geleng-geleng
kepala sambil ketawa konyol. Ahahahaah.
Akhirnya aku dan bang Halim memutuskan buat ngecamp di
lokasi awal. Kamipun mengambil tenda dan carrier di lokasi tempat tim Jogja
mendirikan tenda. Ya begitulah. Kami mendirikan tenda, masak, makan, istirahat,
berbagi cerita, kedinginan dan tidur sampai pagi.
Minggu, 17
Mei 2015. Pagi datang kembali.
Alhamdulillah masih diberi umur panjang. Aku bergegas keluar tenda lagi untuk
mengabadikan momen Ranu kumbolo yang belum sempat aku abadikan kemarin. Ku
puas-puaskan mataku memandang ciptaan Tuhan yang luar biasa dan ku hirup udara
dingin yang menusuk tulang. Sekitar jam 10 a.m. kami semua bergegas kembali ke Ranu
Pane melewati jalur ayak-ayak. Katanya sih jalurnya lebih pendek, tapiii wow.
Perjalanan dari Ranu Pane-Ranu Kumbolo normalnya 4-6 jam, kalau lewat jalur
Ayak-ayak katanya sih 2-4 jam. Katanya. Iya katanya. Yasudahlah kamipun mulai
berjalan mendaki gunung lewati lembah. Ciaa ciaa ciaa. Dan berfoto sepanjang
perjalanan. Capek? Ya istirahat. Simple kan? Kalau udah ilang capeknya ya
lanjut jalan lagi. Karena satu-satunya cara untuk keluar dari hutan ini adalah
dengan berjalan. Jadi kuatkan kaki, dan lebarkan langkah biar cepat sampai.
Halahh.
Jalur ayak-ayak memang membuat kami berasa naik
Mahameru 2 kali. Tapi nggak nyesal deh, pemandangannya..huaaaaaa Subhanallah
luar biasa cantiiiiiiiiiiikkkkkk bangeetttttt ! bikin lupa sama capek. Hmmmhhh.
Setelah berjalan hampir 3 jam kami pun memasuki ladang
kentang dan lain-lain. Loh kok, berasa di Dieng. Kamipun bertanya arah pada
petani. Karena kami tak tau arah jalan pulang. Hadeh. Jalan teruuuuus sampai
teler. Haha. Daaan akhirnya kami melihat Ranu Regulo. Wuaaa kita sampai di Ranu
Pane. Alhamdulillah…. Semangat 45. Kami segera turun dan duduk istirahat.
Mencari minum. Dan bergegas menuju jeep yang akan mengangkut kami ke pasar
Tumpang. Kami ngejar kereta jam 08.30 p.m. Sementara teman-temanku dari
Banjarmasin masih besok pagi berangkat ke Juanda dan terbang ke Banjarmasin. 2
jam kemudian kami sampai di pasar Tumpang. Dan perpisahan yang mengharukan pun
terjadi. Huahh sediiiih rasanya. Peluk satu-satu dangsanakku dari Banjarmasin.
Berelaan jer urang Banjar tuh. Akhirnya bang Halim, Julian, Aghan dan Nisa stay
di pasar Tumpang sambil nunggu travel ke bandara. Sementara aku bergabung
dengan teman-teman dari Jogja mencari angkutan menuju stasiun Malang. Sampai di
stasiun kami kelaparan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan di foodcourt seberang
stasiun. Setelah kenyang, kami masuk ke stasiun. Wooow. Ini pertama kalinya aku
naik kereta jarak jauh, meskipun kelas ekonomi. Tapi aku udah bahagia banget.
Maklum di Kalimantan nggak ada kereta. Haha.
Kereta kami berangkat sekitar jam 8.30 p.m. dan jangan
ditanya, sepanjang perjalanan menuju Jogja sudah pasti aku tidur meskipun
posisi tidur sangat nggak nyaman. Carrier di bawah kursi, duduk berdua
berhadapan, kaki terlipat. Ya ampun rasanya tersiksa banget. Ngeluh lagi deh.
Ups.
Senin, 18
Mei 2015 Sekitar jam 4 a.m. kereta kami sampai di
stasiun Tugu. Alhamdulillah nyampe Jogja lagi. Rasanya bahagiaaaa banget. Duh..
Aku di jemput Nofiar. Luar biasa. Dia mau ngantar aku ke terminal travel Rosalia
Indah di ring road selatan dan njemput aku di stasiun tugu jam 4 subuh, aaaa
Fiaar..hugs hugs. Sodaraan sampe kakek nenek dah kita. Makasih fiaaar.
Sampai kos. Alhamdulillah. Lepas carrier, sepatu,
bersih-bersih badan karena nggak mandi selama pendakian. Ehhh. Shalat dan tidur
karena jam 12 p.m. ada kuliah STATISTIKA. Halloooo demi apa badan remuk gini
kuliah statistika? Demi peradaban ilmu pengetahuan. Hohoo. Semangatlah.
Semangattt karena waktu kuliah mukaku pucat dan sepulang kuliah aku langsung
kuliner makan bakso Jumbo ditemenin Aini. Thanks Ai udah nemenin makan. Hehe.
Maklum bawaan pulang dari gunung.
Andd I think that’s all. Terimakasih yang tak
terhingga kepada Allah S.W.T. yang telah menjagaku dan tim. Terimakasih untuk
ibu bapak atas doanya..maaf Ambar nggak izin..tapi Ambar pasti cerita setelah
beberapa lama kemudian, hehe. Terimakasih kesayangan yang sudah dengan berat
hati mengizinkan dan mendoakan ku, maaf yaa sering ngeselin. Terimakasih tim
pendakian baik Kabloek Adventure maupun tim dari Banjarmasin, thank a lot.
Perjalanan ini luar biasa dan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
Terimakasih kalian. Terimakasih juga Nofiaar..thanks sanak..luar biasa. Rakat
bedangsanakan lah kita selawasan. Aamiin. Dan semua pihak yang tidak bisa aku
sebutkan satu per satu. Thank you.
Pendakian kali ini benar-benar wow. Tidak bisa
diungkapkan dengan kata-kata. Sedih, senang, capek, bahagia, ketawa, dan
sebagainya.
Buat teman-teman yang keranjingan jadi pendakian
kekinian mending nggak usahlah ya naik-naik gunung apalagi Semeru. Karena
mendaki Semeru nggak segampang dalam film 5cm. Noooh makan tuh film 5cm. tapi
buat kalian para pendaki sejati, Semeru recommended buat kalian. Karena Semeru
jauh lebih cantik dari film 5cm. Buat para pendaki kekinian dan para pendaki
sejati, kalau naik gunung jangan lupa bawa turun sampah kalian yaa. Dan ingat
kode etik pecinta alam. Salam Lestari! #AmbarPertiwi#AmbarPertiwi
Sekedar catatan, budget pendakian kali ini yang
dikoordinir bendahara sebanyak Rp 585.000,- dengan rincian sebagai berikut:
Tiket masuk taman nasional hari biasa 1 x Rp 16.500,-
Tiket masuk taman nasional hari libur 3 x Rp 22.500,-
Tiket bus Rosalia Indah 1 x Rp 120.000,-
Tiket kereta api Malioboro Express Ekonomi 1 x Rp
175.000,-
Jeep Ranu Pane-Tumpang 1 x Rp 65.000,-
Truk Tumpang-Ranu Pane 1 x Rp 40.000,-
Angkot dari Malang-pasar Tumpang dan pasar
Tumpang-stasiun Malang
Logistik tim.
Belum termasuk belanja perlengkapan pribadi dan jajan
selama perjalanan ya guys. Selamat merencanakan liburan kalian, semoga
menyenangkan J












