Pendakian kali ini sudah terencana beberapa minggu sebelumnya. Mendekati hari H, aku sedikit ragu, karena kondisi badanku yang sebenarnya jauh dari kata "FIT" dan cuaca ekstrim yang sedang melanda Jogja. Tapi ku kekeuhkan hatiku. Kelas terakhir hari Jumat, teman-teman menanyakan dan mengkhawatirkanku, bahkan hingga menjelang keberangkatanku masih ada yang menanyakan dan menasehatiku supaya hati-hati dan baik-baik selama pendakian. Rasanya..tentu saja senang karena mereka cukup perhatian dengan hobiku yang satu ini. Mungkin karena jika dilihat dengan kasat mata, fisikly aku sama sekali nggak mencerminkan sosok yang punya hobi ekstrim, padahal,wkwk, semacam punya dua kepribadian. Di kampus aku so feminime dengan kostum kuliah yang cewek banget, sementara ketika aku di lapangan, berubah total, jadi diri sendiri, style cuek dan santai. Ckck. Oke, cukup, nggak perlu dibahas lagi :D
Rencananya, kami, 16 orang, berangkat dari Jogja jam 4 sore karena perjalanan menuju basecamp pendakian Merapi sekitar 4,5 jam via New Selo (desa terakhir di lereng Merapi, Boyolali-Jawa Tengah). Kenapa jauh-jauh lewat Boyolali sedangkan Merapi bisa lewat Jogja? Iyaaaa...karena jalur Cangkringan ditutup, makanya muter lewat Boyolali dan ke New Selo. Karena suatu hal, keberangkatan tim pendakian dibagi menjadi 2, tim pertama berangkat jam 4 sore dan sisanya setelah maghrib. Tapi rencana tinggal rencana, tim pertama nggak jadi berangkat duluan karena HUJAN. Iya, hujan. WEW. Akhirnya kami berangkat dari Jogja jam 08.30 malam menuju New Selo. Sepanjang perjalanan dingiiin, brrrrr. Mendekati New Selo mulai terlihat Gunung Merbabu dengan gagahnya dan di sebelahnya Gunung Merapi, Subhanallah. Aku benar-benar takjub dengan pemandangan ini, keindahan ciptaan Allah yang maha sempurna. Meskipun malam dan pemandangannya tidak terlalu jelas, aku tetap saja terbius dan terus-terusan mengagumi mereka di sepanjang perjalanan. Dan kali ini ku buktikan bahwa gambaranku waktu kecil berupa 2 gunung berjajar kemudian ada jalan dan sawah serta rumah penduduk ternyata benar-benar ada disini. Merapi-Merbabu, dan Sindoro-Sumbing. Subhanallah :) Sepanjang perjalanan aku mengamati Merapi dan Merbabu dari kejauhan. Merapi terlihat mengeluarkan asap sulfur, aku sedikit khawatir dan berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Perjalanan menuju New Selo cukup ekstrim, perjalanan malam dengan medan meliuk-liuk, jalan selebar 2 truk yang berselisih, kalau luput, jatuh ke jurang, hiiiy seram.
New Selo, Yeayyy :) Akhirnya. Seperti biasa, setiap sampai basecamp aku selalu mengamati keadaan sekitar, menikmati pemandangan di setiap helaan nafasku. Entah mengapa kali ini aku begitu excited, mungkin karena yang akan ku daki adalah Merapi, gunung aktif yang berbahaya, pernah memakan korban tanpa ampun, pokoknya bahaya, dan kalau aku pamit sama bapak dan ibu mau mendaki Merapi, aku berani jamin 100% mereka nggak bakal ngizinin, nah makanya itu aku nggak pamit, heheheee
Sesampainya di basecamp, mereka para cowok sibuk memarkir motor dan membereskan packingan, sementara kami para cewek duduk manis melepas lelah. Nggak adil ya? Ups, itulah istimewanya "perempuan", wkwk.
Setelah mengurus registrasi, bayar Rp 13.000,- @ individu, kami mulai mendaki. Karena harinya cukup dingin dan gerimis-gerimis, dengan cueknya aku makai celana jas hujan, jaket, buff, sarung tangan, lengkap, iyalah, nggak peduli mereka geleng-geleng kepala ngelihat kelakuanku :D
Oke, trek pertama jalan aspal menuju tulisan "NEW SELO", baru juga trek aspal udah pada ngos-ngos'an termasuk aku, gimana nggak, jalurnya itu langsung ng'trek curam, nggak ada landainya sama sekali, alhasil, harus pinter-pinter ngatur nafas, apalagi aku yang punya alergi dingin dan asma, ckckck. Sesampainya di tulisan NEW SELO, kami briefing dan berdoa, kemudian meneruskan perjalanan. Perjalanan malam yang cukup melelahkan dengan jalur berbatu, dingin, gerimis, senter sekarat, ckckck. Medan yang sulit dan cuaca yang tidak bersahabat sama sekali tidak mengganggu pikiranku untuk menyesal keluar dari zona nyaman dan kasur empuk di kos, entah kenapa aku begitu menikmati perjalanan ini. Semuanya terasa begitu menakjubkan dan aku tidak sabar menanti hari esok saat kedua kakiku ini berada di puncak Merapi, gunung berapi aktif yang FENOMENAL.
Pos bayangan, yeeeee. Ada shelter. Istirahatlah dulu sebentar...sampai ngantuk dan kedinginan baru lanjut trekking lagi. Pos 1, yeeee ada shelter lagi, istirahat lagi sampai ngantuk dan kedinginan, wkwk. Nahhh menuju pos 2 ini senterku mulai redup. Oh no! ini karena aku nggak ng'charge sampai full, rasanya ada sedikit penyesalan kenapa cuma bawa 1 senter. Huuuhhh. Tapi yasudahlah, akhirnya aku ngikutin Bara dan mas Sulis, di belakangku ada Deby, Ridha dan Hary. Jadi kami ber-6 tim paling depan. Medan menuju pos 2 ini paling menantang. Trek nya 100% batu dan kami harus memanjatnya. Wah rasanya asik banget dan langsung terbesit di pikiranku gimana turunnya nanti yaa apalagi hujan, hfffff. Ah sudahlah jalani aja, pasti bisa koook :)
Pos 2, yeeeeee. Harinya mulai gerimis dan waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Kami segera mendirikan tenda dan menunggu anggota tim lainnya datang. Setelah tenda berdiri dan anggota tim yang lain datang, kami tidak segera tidur tapi kami menunggu sunrise. Iyaaa doong, kapan lagi, dan aku nggak akan menyiakan moment kayak gini :)
| Sunrise pertamaku di ketinggian 2930 mdpl, Merapi ! |
Lihat, langitnya keren bangeeet. Subhanallah... Semuanya terekam jelas dalam ingatanku bagaimana langit berwarna keunguan sebagian, kemudian berubah menjadi agak jingga hingga warnanya berkombinasi menjadi warna...entahlah aku sulit mendeskripsikannya, yang jelas, langitnya sangat indah, langit terindah yang pernah aku lihat. Di tambah matahari yang mulai muncul malu-malu, berwarna jingga, seperti kuning telur, Allahu Akbar ! Subhanallah.. sangat indah..
Tanpa menyiakan waktu, kami berfoto untuk mengabadikan moment luar biasa ini.
Moment yang nggak terlupakan itu, kami bertiga, aku-Ridha-Hary, kami putra-putri Borneo yang nggak nyangka bahwa kaki kami bakal sampai ke Merapi, menyusuri sisa erupsinya 4 tahun yang lalu. Rasanya itu nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Merapi, you're so amazing !
| aku-Hary-Ridha |
| The beautiful sunrise..That's why..and that's one of my reasons... |
| Feeling so great and so free ! with Ridha |
| Sunrise Merapi :) |
| Upah trekking malam, cuaca dan medan ekstrim |
| bareng mas Sulis :D |
| Hallo Merapi..selamat pagiii :) |
| Hallo Merbabu...selamat pagiiii :) |
| Lautan awannya bikin pengen tidur dan guling-guling di atasnya :D |
| Kakinya sih di Merapi..tapi backgroundnya Merbabu, kurang keren apalagi? Subhanallah.. |
| Groufie bareng Ridha-Deby-Harry |
| masak di Merapi bareng Ridha |
| Selfie bareng Harry sebelum "summit attack" |
| Vandalisme !!! |
| See ! Bekas aliran lahar erupsi Merapi 2010 silam |
| jalur trek menuju Pasar Bubrah, bebatuan cadas |
| Nyempil di gua mini diantara gerimis Merapi |
| Bareng leader-Bara, adek Icad dan saudara seperjuangan dari bumi Borneo |
| i was here :) |
| batu cadas..suhu tinggi |
| cuaca cerah dan suhu yang tinggi tiba-tiba turun drastis dengan kabut dan gerimis yang menghalangi summit attack kami :( |
| groufie dengan jas hujan :D#gagal muncak euy, ckck |
| kabut tebal dengan jarak pandang terbatas, mengharuskan kami untuk kembali ke tenda :( |
| di depan tenda darurat, hanya berupa jalan setapak diantara jurang Merapi |
| groufie diantara hujan badai dalam perjalanan turun ke basecamp keberangkatan Merapi, New Selo |
Yahh...begitulah cerita perjalananku kali ini. Meskipun gagal muncak, aku tetap bahagia karena setidaknya aku telah menginjakkan kaki mungilku di gunung fenomenal, salah satu gunung impian yang ingin ku daki. Merapi-Yogyakarta.
Harapanku semoga Merapi akan terus tidur tidak bangun lagi, kalaupun bangun jangan sampai melukai warga di sekitarnya. Semoga pendaki Merapi semakin berbudi luhur dengan tidak melakukan vandalisme, meninggalkan sampah dan mengambil sesuatu dari Merapi selain foto dan kenangan, dan semoga aku masih punya kesempatan untuk menginjakkan kaki di puncak tertinggi Merapi, puncak Garuda. Semoga. Aamiin.
Salam Lestari !