Jumat, 24 Oktober 2014

Mt.Sindoro 3153 mdpl - Central Java, Sept 13-14, 2014

Hi !
Salam dari ketinggian 3153 mdpl, puncak Gn.Sindoro, Jawa Tengah :)

I'm on the top ! :)

Aku tidak akan bercerita tentang jalur pendakian, aku juga tidak akan bercerita tentang apapun yang ada di sana, yang akan ku ceritakan adalah bagaimana perjalananku mencapai puncak, karena ini adalah salah satu unforgettable moment.
Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki mungilku di puncak Jawa. Ketinggian 3153 mdpl. Bagiku, sebuah pencapaian luar biasa dari seorang aku yang notabene tidak punya fisik sekuat wonder woman. Tapi tekad dan keinginan yang kuat, juga doa, yang menuntun kakiku untuk terus melangkah hingga aku sampai di puncak sana. Puncak yang luasnya hingga 7 lapangan bola dengan kawah aktif di tengahnya.
Pendakian ini diawali dari ajakan seorang teman baik bernama Deby Kurnia Dewi. Aku mengenalnya saat kami kuliah matrikulasi. Selain Deby, aku juga mengenal Indi-Septiana Indri Hapsari yang juga gila petualangan. Haha. Dan hasilnya, kami cocok. Karena punya hobi dan kegilaan yang sama.
Mendadak. Iya. Kalau nggak salah Kamis Deby baru ngasih kabar dan ngajakin naik, sementara Sabtu kita berangkat. Bisa ngebayangin nggak sih gimana gelabakannya aku nyiapin semuanya? Ckck. Secara, ketinggian 3000an, aku googling nyari info tentang medan di sana gimana, suhu, trek, dan lain-lain. Iyalah, karena aku nggak mau ceroboh dan bodoh, karena pendaki yang nekat mendaki tanpa persiapan itu sama aja bunuh diri. Iya. Kenapa? Karena bagi orang yang punya basic Mapala, mendaki nggak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi, bagiku, film 5cm telah berhasil meracuni orang-orang awam yang nggak tau apa-apa buat ikut-ikutan mendaki gunung karena ngikuti trend dan supaya dianggap keren. Haha. Miris ngelihatnya. Bukannya apa-apa, kalau aja mereka tau gimana aturan seorang pendaki, dari persiapan fisik-mental, logistik, packing, manajemen perjalanan dan lain-lain, mungkin mereka akan berpikir, setidaknya menyiapkan dengan maksimal, nggak asal mendaki. Kan nggak lucu kalau tiba-tiba mereka ditemukan dalam keadaan kelaparan dan kedinginan karena mereka nggak bawa peralatan pribadi sesuai SOP dan logistik yang cukup. Ckck.
Carrier, sepatu, jaket wind breaker, jaket water proof, kacamata, baju ganti, sleeping bag, rain coat, kamera, obat-obatan, logistik, sarung tangan.. SIAP.
Sekitar jam 1 siang aku dan Deby dijemput temannya, Bongo dan Melin pakai mobil, kemudian kami berkumpul di sebuah tempat semacam alun-alun untuk bertemu dengan teman-teman pendaki yang lain. Jumlah pendaki dalam tim ini 19 orang, 5 orang naik mobil (Bongo, Melin, Deby, Endah, aku) sementara yang lain naik sepeda motor. Perjalanan kami cukup jauh, dari Jogja ke Wonosobo sekitar 4 jam.
Sepanjang perjalanan aku mencoba menikmati dan mempelajarinya, tapi apalah daya aku akhirnya tertidur juga :D
Memasuki kabupaten Wonosobo, udara mulai terasa dingiiin..dan pemandangan alamnya luar biasa indah, Subhanallah. Terlihat Gn.Sumbing dan Sindoro yang berdiri dengan kokoh dan gagah. Dari kejauhan sekilas terlihat jalur pendakian Gn.Sumbing, hmm lumayan pikirku. Semoga aku bisa, dengan kondisi badan yang sama sekali nggak fit dan tanpa persiapan fisik apapun. 
Nggak terasa, beberapa jam kemudian kami memasuki kawasan kebun teh, jalannya wow..naik-naik dan meliuk-liuk. Hari mulai gelap dan suhu udara mulai menusuk ke tulang. Brrrrr. Dan akhirnya sampailah kami di basecamp keberangkatan. Setelah istirahat sejenak, ganti kostum dan merapikan packingan, kami berkumpul untuk perkenalan diri dan berdoa sebelum melangkahkan kaki menuju puncak. Sekitar jam 7 malam kami mulai trekking. Sepanjang perjalanan teman-teman bersenda gurau dan bercerita apapun. Sedangkan aku, aku hanya diam dan menikmati setiap jengkal langkah kakiku. Aku memperhatikan dalam gelap dan menikmati rasa dingin yang semakin lama semakin parah. Selama perjalanan ada sekitar 3 pos istirahat (shelter). Susah payah bagiku melawan udara dingin karena aku kepayahan mengatur nafas. Asma-alergi dingin. Tanpa pemanasan, tanpa persiapan matang. Ini pendakian ternekat yang pernah aku jalani. Tanpa izin dari orangtua. Dalam perjalanan itu sempat terlintas rasa penyesalan kenapa aku harus berada di tempat itu, gunung yang suhunya sangat tidak bersahabat dan jalur trek yang sangat jauh berbeda dengan jalur trek di Kalimantan Selatan. Padahal seumur-umur, berapa kali pendakian aku nggak pernah sedikitpun mengeluh dan menyesal, tapi pendakian ini, entahlah. Tapi aku berusaha menguatkan diriku sendiri, aku pasti bisa, bisa menaklukkan egoku, diriku, dan sampai ke puncak. Hampir 9 jam kami berjalan, akhirnya leader kami mengomando untuk istirahat. Fiuh akhirnya.. tapi tau nggak sih tempat istirahat kami seperti apa?? DUNIA MIRING ! Alamakk..nggak disini nggak di Kalimantan masa iya istirahatnya di dunia miring? wkwk tapi ini keadaan darurat. Okelah :D
Waktu itu, ada salah satu dari anggota tim yang terkena hipotermia. Dan aku diminta untuk menanganinya. Waktu aku datang, dia udah sangat-sangat menggigil, padahal dia udah pakai SB. Trus aku perhatiin, oohh pantesan, dia mendaki gunung dengan ketinggian 3153 mdpl pakai kostum jeans dan baju flanel. Ya ampun. Tepok jidat. Ini sih menantang bahaya subjektif namanya. Sementara bahaya objektifnya udah sangat jelas, suhu dan angin yang sangat kencang.
Fajar, dengan dunia miring :D
Gisa, korban hipotermia
Akhirnya, karena keadaannya sudah sangat menggigil, aku pakein 1 SB lagi, dibuka supaya bisa buat berdua, aku peluk dia supaya hangat. Karena dia masih menggigil, aku selimutin dia pakai jas hujan karena anginnya sangat kencang dan nggak ada pohon sebagai pemecah angin. Masih menggigil dan ngoceh macam-macam. Aduh. Trus aku kasih dia roti aku suruh makan supaya ada proses metabolisme dalam tubuhnya, supaya hangat juga. Akhirnya dia mulai tenang dan mulai tidur. Dan aku pun tertidur juga. Syukurlah...
Sebelum benar-benar tidur, aku sempat menggigil dan sempat kesal dengan cowok-cowok. Kenapa? Mereka nggak menyalakan api! Padahal kan api itu penting, buat menghangatkan tubuh dan lain-lain. Nggak lama ada salah seorang cowok menyalakan api, Alhamdulillah, tapi nggak lama apinya mati lagi karena anginnya sangat kencang. Yasudahlah.
Rasanya nggak berapa lama aku tertidur, tapi sangat nyenyak, Alhamdulillah. Mungkin karena sangat kelelahan. Aku terbangun dan udara dingin langsung menyambutku. Ku buka mata, ku lihat teman-teman yang lain ada yang sudah bangun dan ada yang masih meringkuk kedinginan dalam SB masing-masing.Dan ketika aku bangun dari matras, SB dan zona nyamanku, entah berapa kali aku mengerjapkan mata, ngucek mata dan bilang Subhanallah...indahnya ciptaanMu Tuhan :3




Pemandangan menakjubkan itu yang memanjakan mataku di pagi yang dingin. Rasanya semua lelahku hilang seketika. Terbayar. Sebenarnya belum, karena belum sampai puncak.
Menunggu matahari sedikit lebih tinggi dengan harapan suhu menjadi lebih hangat, ternyata sama aja. Suhunya tetap dingiiin banget dan kata leader, suhu mencapai 6 derajat Celcius. Ya ampun, pantes aja aku nyesek nafasnya. Ckck.
Setelah beres-beres dan packing, juga sarapan, kami siap menuju puncak yang tinggal beberapa jam lagi. Sepanjang perjalanan menuju puncak aku dan Deby sengaja memisahkan diri dari rombongan. Kami sibuk mengabadikan moment. haha.

kaki ku dan kaki deby di atas awan
trek menuju puncak
view: Gn. Slamet, Dieng Plateau, Pegunungan Wonosobo
take a rest !

padang karamunting gunung, edelweiss, langit biru, uyeeee !
I'm feel FREE !
Puncaakkkk. Yeayyy !

Bangga, mengibarkanmu di ketinggian 3153 mdpl, bagaimanapun, aku akan mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku, Indonesiaku, aku bangga menjadi bagian darimu!
Hey sanak Arwana Laut, IMPAS-B FKIP Unlam,  telah ku kibarkan bandana kebanggaan kita di ketinggian ini, aku merindukan kalian di sepanjang perjalanan, aku merindukan persaudaraan kita. I miss all of you! Salam Lestari!
Hallo sanak seperjuangan, kaka dan abang KSR PMI Unit Unlam Sub Unit Banjarmasin, telah ku kibarkan bandana biru kebanggan kita di ketinggian 3153 mdpl, aku buktikan bahwa aku mampu membawanya ke ketinggian manapun aku melangkah. Salam kemanusiaan!

Puncak Sindoro seluas 7 lapangan bola, check this out !

heran dan takjub, baru ini nemuin puncak gunung yang luasnya hampir seukuran 7 lapangan bola, ckck
Kawah aktif. Kawah pertama yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Bau belerangnya..Wuuusssss bikin nyesek
Bara, leader, Icat (bawa payung ke gunung) haha
yeayyy welfie never die :D

My first Edelweiss :3
fiuhhhh...treknya luar biasa, 180 derajat bedanya dengan hutan kalimantan, ahh, aku rindu hutan kalimantan!
Sekian catatan perjalanan pendakian pertamaku di pulau Jawa. Terimakasih ku ucapkan kepada Deby yang sudah mau menyeretku dan menambah kegilaanku dalam mendaki gunung, juga tim yang luar biasa. Proud of us. Dan yang pasti, Terimakasih kepada Allah, Tuhan semesta alam untuk segala sesuatunya.
Salam Lestari !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar